Pernahkah kau
mendengar tentang kisah hidup penyu sisik?
Tengah malam itu, di kegelapan, terdengar
bunyi retakan. Awalnya seperti sekilas. Namun lama-lama bersahut-sahutan.
Itu suara ratusan telur penyu sisik menetas.
Satu-satu penyu mungil keluar serempak, terdesak-desak, terburu-buru. Ramai.
Dunia gelap dalam pasir, langit gelap di luar
pasir. Seburuk itukah dunia? Hanya seekor penyu mungil yang bertanya. Kakinya
cacat.
Serempak seluruh penyu sisik mungil menuju
laut yang menyahut. Ketika taktahu apa harus dilaku, maka hati lah penunjukmu.
Namun sekelebat bayang bersidekap. Kepak
makhluk entah apa menekan keberanian. Tatapan pasang mata mengintai tekad.
Teriakan pertama terdengar di depan diiringi
bayangan menyambar. Disusul rentetan serangan bayangan bertubi. Teriakan
menyayat bersahutan.
Apa yang terjadi?! Teriak penyu sisik mungil
dengan kaki tak sempurna. Ada apa dengan dunia? Kenapa pembantaian dianggap
normal?
Tentu saja tak ada yang menjawab.
Kakak-adiknya dibawa terbang sekawanan burung pelikan, ditelan kenyang
gerombolan biawak hutan.
Belum lagi ribuan telur penyu tak sempat
menetas dicuri makhluk serakah bernama manusia.
Penyu sisik mungil tidak tahu, bahwa hanya 10
ekor penyu yang dapat bertahan dari seribu telur yang ditetaskan.
Sebuah bayangan menukik ke arah penyu sisik
lengkap di depannya. Ia melompat menyerahkan diri. Meski tadinya tak mungkin.
Ia mengangkasa. Makhluk bersayap mencengkram
tempurung dan angin keras menampar. Ah, ia menyelamatkan saudaranya. Takapa,
dirinya toh cacat.
Ajalnya dekat. Apa yang sudah ia perbuat
dalam hidupnya yang singkat? Tanyanya tercekat. Ia lihat saudaranya hampir tak
ada yang selamat.
Tapi penyu kecil yang ditolongnya berhasil
mencapai garis pantai. Barangkali, ya barangkali, ia hidup untuk menyelamatkan
satu nyawa.
Barangkali, hidup singkatnya berharga karena
satu lompatan tak mungkin. Tapi setidaknya ada maknanya. Ada arti keberadaan hidupnya
di dunia.
Ia menutup mata dan tersenyum. Jatuh bebas ke
karang yang memecahkan ombak dan tempurungnya.
Malam itu, retakan bersahut-sahutan. Namun
bukan tetasan telur. Kali ini pecahan tempurung. Milik penyu sisik mungil dan
hidup singkatnya.
@nadanakaneh
0 thoughts:
Posting Komentar