Pages

Minggu, 31 Maret 2013

get well soon


hai kamu,
yang manis
tapi menyebalkan,
yang misterius
tapi menyenangkan,
cukuplah nakalmu untuk hari ini ya.
sekarang tubuhmu butuh istirahat
maka istirahatlah.

syafakallah :)

besok pasti kamu sudah membaik
asal kamu tidak nakal.
baik-baik ya?
ya sudah,
aku pamit pulang
karena hari sudah malam
dan kamu pun sudah terlelap..














tidaklah Allah menurunkan cobaan  kepadamu
melainkan karena cinta-Nya padamu.
semoga cepat sembuh!


MS Rotterdam



| Kapal pesiar MS Rotterdam | Kapasitas 1404 orang | Berangkat dari Belanda, kota Rotterdam | Butuh waktu perjalanan 40 hari untuk sampai ke Indonesia, ke Jakarta | Kapal ini singgah di berbagai negara | Belanda - Inggris - Spanyol - Portugal - Italia - Mesir - Dubai - India - Malaysia - Singapura - sampai akhirnya ke Indonesia | Untuk sampai ke Indonesia, tiketnya tidak murah | 6 ribu US Dollar  per orangnya | atau sekitar 60 juta rupiah | atau sekitar 1,5 juta perharinya | Mungkin akan sulit menemukan waktu kosong selama 40 hari, juga uang 60 juta hanya untuk dihabiskan di atas laut saja | Lebih baik uang dan waktunya dipakai untuk pergi haji saja, bukan? | Tapi mungkin akan seru jika kita hanya sampai Spanyol, misalnya, atau Mesir | Tak ada salahnya sesekali mencoba kapal pesiar | Ya, sesekali | atau cukup satu kali saja seumur hidupmu, haha |


rencana kasar,
firdausil.
















Sabtu, 30 Maret 2013

Belanda


| Leiden | Amsterdam | Den Haag | Utrecht | Rotterdam | Delft | Maastricht | Erasmus | Taman Bunga Keukenhoff |  Alkmaar Kaasmart | Dom Tower | Monumen Annefrank | Pathe Unlimited | Strippenkaart | Koninklijke Bibliotheek | juga naik perahu di kanal-kanalnya |
aaak, mupeng >___<


"Tolong ya Allah, izinkan dan tunjukkan jalan 
agar kami berdua bisa pergi ke Belanda."
amin.


Jumat, 29 Maret 2013

papa tetap nomor satu


Daddy,
I may find my
Prince
but you will always
be my
King.


papa tetap nomor satu


dari kecil, aku sudah terbiasa belajar "mengemudi" dari papa.
belajar sepeda,
belajar motor matic,
belajar motor gigi,
pun belajar sepatu roda dan ice skating juga dari papa.
dan kali ini terasa aneh saja harus belajar mobil bukan dari papa.

dari tiga hari ini belajar mengemudi mobil,
aku menemukan perbedaan besar
antara papa, dan para pengajar-pengajar itu.
bahwa papa mempercayaiku.
papa tak pernah membentak
sekalipun aku jatuh,
sekalipun lututku terluka,
sekalipun aku menabrak trotoar, atau tiang, atau pagar,
sekalipun operan gigiku juga belum halus,
papa selalu percaya bahwa itu adalah proses.
papa selalu percaya nanti aku akan terbiasa dengan sendirinya.
senyuman itu, tatapan mata itu, terbalut dengan sempurna di wajah tampannya.
dan iya, papa tak pernah membentak.
papa mempercayaiku.
yang tak bisa kutemukan di antara pengajar-pengajar itu.


they don't believe in you 
like your father does.
I miss you Dad




Kamis, 28 Maret 2013

dari barat ke utara



Happy Birthday Dhida :D
Barakallah.
semoga kamu di sana selalu sehat dan bahagia
semoga semua urusanmu dimudahkan dan dilancarkan
semoga semua ilmu yang kamu dapat diberkahkan
semoga kehidupan dokter mudamu menyenangkan
semoga lelaki yang menjadi jodohmu akhlaknya lebih dibaikkan
semoga kita tetap menjadi saudara dan sahabat selamanya
dan semoga semoga yang lain yang menjadi doa-doamu
semangaat!


ah iya, dan semoga mimpimu menjadi Sp.THT atau Sp.S itu,
dikabulkan oleh Allah :D
amin.
sahabatmu, barat.

once upon a time



26 maret jam 10.22 kamu mengabarkanku bahwa besok kamu akan sidang | sementara aku berada 100 km darimu dan aku sudah berjanji dengan diriku sendiri akan ada di sana saat itu | waktuku tinggal 8 menit untuk memikirkan bagaimana cara menyelesaikan list-to-do ku sebelum kembali ke kota itu | mau tidak mau aku harus pulang sore ini sementara masih banyak list yang belum aku coret | baiklah, saatnya kita berdua sama-sama nekat | the-power-of-nekat benar-benar luar biasa | kamu ke sana kemari untuk mengurus sidangmu | sementara aku juga kesana kemari mengurus niatan awalku di kota ini | berdoa dulu, agar kita sama-sama dilancarkan urusannya |

jam 17.12 akhirnya selesai | aku yang berpeluh sudah siap menghempaskan badan di kursi bis, dan kamu sudah pulang ke rumah memohon doa restu orang tua | aku sempat tak habis pikir, kamu yang sidang kenapa pula harus aku yang palpitasi | selama 3 jam aku menelusuri jalanan lewat jendela mencari alasan kenapa otak bawah sadarku begitu memintaku untuk pulang | siapa tahu tercecer di jalan, kan? | tapi tetap saja aku tak menemukannya | ya sudah, karena apa-apa tak selalu butuh alasan | malamnya, kita sama-sama menyiapkan amunisi untuk perang esok hari | aku tak kan tidur sebelum kamu tidur |

dan hari-H itu pun datang | tuh kan, aku tak habis pikir lagi; aku sudah palpitasi dari pagi; aku sudah wangi dari pagi; tinggal menunggu instruksi saja darimu; yang seharusnya bukan aku yang palpitasi! oh God | lalu akhirnya kita bertemu | siapkan dulu amunisi yang terakhir sebelum pergi ke medan perang | Bismillah | sesampainya di sana, semua berjalan apa adanya | bagaimana mungkin kau bisa begitu tenang? | kau jawab "Allah melimpahkan gugupku memang pada orang yang dapat dipercaya, asti. ya kamu" | begitukah? | oke baiklah | dan di saat perang dingin benar-benar sudah mulai, aku menepi mencari tempat sepi | menemanimu dengan doa dengan caraku sendiri | sempat berniat mencari tempat pelarian yang lebih jauh, tapi aku urungkan | aku ingin di sini saja, masih ingin dalam radarmu saja |

jam 16.08 akhirnya semuanya benar-benar selesai | kamu memberi kabar, menanyakanku ada dimana, dan seketika membuat parasimpatisku mulai kembali bekerja; jantungku mulai stay cool lagi | lalu aku menunggumu shalat di tempat pertama kali aku menunggumu; ku pikir begitulah kecenderungan seseorang selalu kembali pada kenangan | "otak itu bekerja lebih baik saat perut kosong, asti" katamu yang meniru kata di buku sherlock holmes | dan aku percaya | dan setelah perang ini selesai mari kita isi perut dulu | gurat kelegaan itu ada di wajahmu, kawan | kamu bercerita, aku yang mendengarkan | aku berkomentar, giliran kamu yang mendengarkan | lalu kamu mengikutiku memastikanku selamat sampai  ke rumah | lalu kamu pulang | dan menatap punggungmu selalu aku suka | ya, kamulah orang tenang yang berkemauan sangat keras | terima kasih untuk hari itu | aku tak menyesal telah jauh pulang ke semarang | dan aku akan menyusulmu | sidang |