Pages

Minggu, 25 Agustus 2013

selayaknya dokter



aku tahu, ketika aku sudah memakai jas putih dan melangkah masuk ke rumah sakit, aku diperhatikan. perilaku ku, tutur kataku, juga penampilanku. semuanya. setidaknya itu yang dikatakan bu anggita. maka aku harus bersikap selayaknya dokter, mulai sekarang.


Kamis, 22 Agustus 2013





84 orang masuk sama-sama
semoga juga selesai di waktu yang sama
panitia simpo bareng
UKDI bareng
sampe sumpah dokter juga bareng.
amiin.




power rangers




jadi berasa power rangers. ranger pink, merah, putih, ungu, sama kuning, yang siap berjuang menyelamatkan dunia. haha


adegan yang tersembunyi di pagi hari



(tepian daun)

kepada embun: sebagai tepian daun,
tak ada yang bisa ku perbuat
selain menjaga dan memperhatikanmu.
jika kau ingin jatuh, jatuhlah perlahan.
kau tahu aku mencintaimu, karena itu aku mengikhlaskanmu.


(setitik embun)

kepada daun: sebagai titik embun,
tak ada yang bisa ku berikan
selain sejuk tubuh rapuhku.
aku akan segera mati, karena aku hanya sementara.
percuma.
aku hanya setitik embun dan menemanimu sebentar saja,
setelah itu aku akan menguap,
atau jatuh ke tanah dan mati.
aku mendengar kau berteriak begitu keras.
kau berkata, mengapa perpisahan kita begitu lekas.
aku tidak tahu, kataku.
namun beginilah seharusnya. kau harus menerima.
banyak hal indah memang hanya berlangsung untuk sementara.
kau bisa mencintai embun yang lain jika mau
tetapi kau menolak. kau bersikeras menginginkan aku.
kau tahu, jika saja aku punya keberanian untuk mengucapkan hal itu,
aku akan berkata padamu, aku pun mau.
tetapi aku tak bisa.
aku hanya setitik embun dan aku lahir untuk sebuah sementara.
selamat tinggal dan terima kasih.
aku akan merindukan rengkuhan itu. rengkuhan saat kau begitu takut kehilangan aku.


(sebuah pagi)

aku sebuah pagi dan temanku adalah angin.
sebagai pagi, aku sudah terlalu tua untuk menyaksikan kisah cinta seperti ini.
sungguh, bisakah kalian hentikan melodrama tua ini?
kalian akan terus bermesraan seperti itu di depanku? sungguh?
oh, lebih baik aku segera mati.
aku terpaksa menyaksikan semuanya karena, ya, tentu saja karena aku sebuah pagi.
aku tidak bisa lari atau menghindar meski, oh, aku ingin, setengah mati ingin, lari dari pertunjukkan memuakkan ini.

sesungguhnya aku tidak benar-benar yakin apakah angin adalah temanku.
karena pada hari-hari tertentu ia akan menjelma menjadi musuh.
ia pengembara yang berpergian seenaknya. dan ia tak pernah menjadi tua.
tidak seperti aku, yang selalu khawatir akan bertambahnya usia.
angin, temanku (atau musuhku, entahlah) ia abadi dan ia tidak butuh hal lain selain dirinya sendiri.
ia hanya satu dan ia sangat bangga dengan itu.
tetapi meski menyebalkan, ia masih lebih  baik daripada kalian dan kisah cinta kalian yang membosankan.


(angin)

sebagai angin, tak ada lagi yang membuatku gembira selain berkelana dari satu pagi ke pagi yang lain, singgah sebentar dan berangkat lagi.

oh ya, aku sudah cerita kepada kalian tentang daun dan embun yang bercinta pada pagi itu?
ah, kasihan sekali.
daun yang malang itu sampai sekarang masih terpuruk dan belum menerima kenyataan bahwa embun yang ia cintai sudah jatuh ke tanah dan mati.
padahal masih banyak embun lain yang berdatangan kepadanya setelah itu, tetapi tetap saja ia tidak mau.
aku heran, memangnya cinta hanya bisa untuk satu? tidak bisa dua, tiga, atau empat?
ah, pusing aku memikirkannya.
aku ini angin dan tugasku hanya membawa kabar, bukan menelaah kisah cinta yang bahkan bukan milikku.

aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ditunggu oleh pagi yang tua itu.
dia pernah kehilangan kekasihnya, aku tahu.
belakangan aku mencari tahu lebih jauh tentang kekasih pagi yang pergi itu.
kekasihnya bernama senja.
dan setelah satu fakta terbuka, fakta lain mengungkap dirinya.
senja dibawa pergi oleh malam.
menurut pengakuan pagi kepadaku, senja melihat malam pada hari itu begitu indah dan menawan.
senja melihat malam di hari sebelum tahun baru yang penuh sinar menyilaukan dan tanpa butuh waktu ia jatuh cinta kepada malam itu.
hari berikutnya, ia tidak pernah lagi menemui pagi.
dan sejak itu, pagi yang tua selalu menanti.
aku bingung, memangnya cinta harus selalu menanti?
ah, aku ini kan hanya angin dan tugasku hanya membawa kabar.
oh ho ho ho!


hangat



aku ingat, aku begitu hangat waktu itu. entah karena demam atau hanya sedang cemburu. mungkin juga patah hati. aku juga tidak tahu mengapa aku layak untuk patah hati. padahal aku dan dia tidak pernah menjalin apa-apa. hubungan kami pun hanya sebatas dua manusia yang saling memberi kabar dari jauh. saling bertanya tentang manusia-manusia yang berlalu-lalang, dan bulan kesayangan yang tiba-tiba menghilang.


Selasa, 20 Agustus 2013

surat untuk alfa



aku tak pernah pura-pura tidak ada yang terjadi di antara kita, jika itu yang membuatmu marah kepadaku. aku mengakui ada perasaan yang muncul di hatiku untukmu. aku mengakuinya, fa. tidakkah kau juga? namun, kau dan aku sama-sama paham ini tidak bisa berjalan selamanya. maka dari itu aku tidak berani mengambil langkah lebih jauh untuk mendekat ke hatimu, karena aku takut aku hanya akan merusaknya.

aku memberimu harapan palsu, itu yang kau bilang, fa? tidak, itu tidak benar. apa yang kurasakan itu nyata, fa. semua yang kuucapkan kepadamu itu nyata, dan fakta. aku tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat indah hanya untuk menghibur hatimu. aku tahu kau tidak suka itu. iya kan, fa?

aku menjalin hubungan dengan lelaki lain, itukah yang membuatmu semakin benci kepadaku? kau pasti menuduhku mempermainkan hatimu, bukan?
tidak, fa.
namun aku tahu kau lelaki dengan tembok begitu tebal dan tinggi yang tidak mampu ku panjat, fa. kau terlalu tangguh. kau bahkan tidak membutuhkan siapa-siapa untuk bahagia. aku tahu kau bisa menangani dirimu sendiri. kau begitu mandiri. kau tidak butuh aku. kau sendiri yang pernah bilang begitu kepadaku. kau ingin mengurus semuanya sendiri. denganmu, aku tidak merasa dibutuhkan. aku butuh orang yang membutuhkanku, fa. tidakkah kau juga begitu?

jadi, janganlah kau menangis lagi, fa. tak sanggup bumi ini menampungnya. masa lalu kita mungkin sebuah kesalahan, tapi aku tidak pernah menyesal. tentu kau juga, bukan? luka dapat menyembuhkan dirinya sendiri asal kau memberinya jalan. sungguh, fa. tidak ada yang perlu diperdebatkan perihal aku atau kau yang memulai. kita sama-sama paham. namun, bila kau masih saja memikirkannya, berjanjilah, berjanjilah untuk dirimu sendiri: kau tak akan pernah membaca suratku lagi.

mau kan kau memaafkanku, fa?

ah, sebelum aku lupa, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa ini adalah surat terakhir yang ku tulis dan ku kirim untukmu.

sekian.
untuk sahabatku, alfa


empat putaran



setiap hari. pukul lima lewat sepuluh pagi.
belakangan, aku sering melihat wanita itu berlari di boulevard kampus. pada awalnya, aku tidak memperhatikan dia. namun setelah iseng-iseng mengikuti jalur larinya, aku baru sadar ternyata dia hanya berlari empat putaran.
selalu empat putaran.
hanya empat putaran.
aku tidak suka berlari empat putaran, karena empat putaran tidak cukup bagiku untuk berlari dari apa yang ingin aku tinggalkan.
masa lalu.
pengkhianatan lebih menyakitkan daripada maraton bertelanjang kaki, kau tahu?
aku masih tidak bisa mempercayai apa yang kulihat saat di suatu senja yang berangin, aku menemukan dia - bersama seorang wanita.


pintu kamarku



adapun, pintuku itu tak pernah ku kunci. aku tak merasa perlu mengunci pintu kamarku itu. bukankah seseorang mengunci pintu kamarnya karena ada sesuatu di dalam sana yang ia tak ingin dilihat orang lain? bukan kah mereka melakukannya karena ada sesuatu atau banyak hal yang hanya boleh ia temukan sendiri? bukankah karena di dalam ruangan di balik pintu itu ada rahasia?
dan adapun aku, tak merasa perlu menyembunyikan apa-apa. rahasiaku ada di dalam diriku. bukan di balik pintu itu, di ruang kamar ini.