Jumat, 21 Maret 2014
kematian
namun pada akhirnya ke bumi juga kita dikembalikan.
menjadi tiada atau menjadi ada
dan membuka pintu menuju jalan pulang
ke jagat besar tak berpermanai.
atau, kita tersesat tak berdaya
di lubang hitam rahasia
tempat abadi sang nestapa.
Senin, 17 Maret 2014
suatu hari nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti
suaraku tak akan terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati.
Pada suatu hari nanti
impiankupun tak akan dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya ku cari.
kami bertiga
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau, dan kata..
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya.
tak peduli darahku
atau darah kata.
Rabu, 12 Maret 2014
gadis pagi
pagi menggigil dalam angin.
kota bangkit perlahan dari tidurnya
berwudlu dengan serbuk gerimis
menyeka wajahnya dengan kabut pagi
lalu menyerukan adzan
dalam kebiasaan yang sempurna.
akupun memenuhi panggilannya.
melintasi lembah-lembah dan padang
yang tergolek lelap diselimuti embun.
sesekali ku dengar dengkurnya yang lembut
serupa doa yang lupa diucapkan.
bismillah
semoga ujian hari ini dilancarkan.
angin, kabel telepon, dan hujan
angin berbisik kepada daun jatuh
yang tersangkut kabel telepon itu,
"aku rindu, aku ingin mempermainkanmu."
kabel telepon memperingatkan angin
yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya yang gemas,
"jangan berisik, mengganggu hujan!"
hujan meludah di ujung gang
lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya
"lepaskan daun itu!"
selesai.
Senin, 10 Maret 2014
doa jagat raya
airmatakah atau harapan
yang berkilauan di luas jagat raya sana?
berdegup-degup bagai nadi dalam duri
mencari-cari isyarat yang dikirim bumi
ke angkasa.
boleh jadi ada doa yang kita panjatkan
oleh jagat raya dikirim pulang
kembali ke bumi kalbu kita sendiri.
cermin
cermin tak pernah berteriak.
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terisak.
meski apapun jadi terbalik di dalamnya.
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
darurat selalu
engkau datang dalam hidupku
bagai gempa.
mengirimkan runtuhan kota
ke tentram kalbuku.
sejak itu
jiwaku darurat selalu.
bergegas membangun tenda-tenda sepanjang jalan
yang sesak oleh erangan rindu.
Langganan:
Postingan (Atom)