Selasa, 26 Maret 2013
"Hidup itu seperti skripsi, banyak bagian yang harus direvisi. Dan akan berakhir dengan baik untuk orang yang pantang menyerah.."
kata teman saya, Ali.
bagaimana kau kejar mimpimu?
analoginya mungkin seperti saat kita asistensian atau pretes di pagi-pagi buta.
saat itu, apa yang kau khawatirkan?
pasti mayoritas takut terlambat kan? karena refrat bukan?
jam 5 pagi harus sudah siap-siap,
dimana yang lain mungkin baru bangun, atau berselimut hangat, atau masih bermimpi.
makanya saat itu kau pacu kendaraanmu,
kau lari sekencang mungkin agar tidak terlambat bukan?
kau tahu saat jalan lurus harus dipacu kencang,
dimana di persimpangan kau harus pelan,
agar kau cepat sampai dan selamat,
terhindar dari refrat!
yaa seperti itulah seharusnya kau mengejar mimpimu.
kau kayuh langkahmu, kau kencangkan ikhtiarmu agar kau cepat mewujudkannya.
di saat yang lain berada di zona nyaman, kau mau keluar.
mengambil langkah cepat dan berhati-hati
agar mimpi-mimpi itu terwujud..
jadi, bagaimana kau kejar mimpimu?
"Rumput tetangga memang kadang kelihatan lebih hijau, Asti. Tapi sadar ga sadar, Allah pasti udah milihin yang terbaik buat kita kok. Nah, yang harus kita lakuin itu ya tinggal bersyukur sama ngejaga apa yang udah kita punya sekarang. Gampang kan? :) "
-ulum.
kompakan nih kita
Sabtu, 23 Maret 2013
ke solo
Saya cuma berharap bisa lebih banyak baca buku, lebih banyak menulis tapi lebih sedikit menangis, lebih banyak berbahagia tapi lebih banyak menabung. Semoga ada lebih sedikit hal-hal nggak penting yang mesti saya pikirin jadi saya punya banyak ruang untuk mulai memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.
Semoga saya sedikit lebih bermanfaat buat orang lain.
sweet :')
"klo ada yang mau diceritain, disharing, random thoughts, atau apapun itu, penting ga penting, dibagi ke aku ya. Ga usah sungkan atau ngerasa ga enak. Aku mau tahu dan pengen tahu apa apa yang terjadi sama kamu."
di bawah lampu
Seharusnya aku ada di sini dari awal: duduk di bawah lampu tanpa berpikir apapun sembari menahan mual.
Akhirnya bertemu setelah sekian lama merindu faktanya memang melegakan, tapi itu pun buat apa kalau pada akhirnya cuma mengantar kita kembali ke titik yang sama. Bukankah kita sudah sama-sama lelah? tapi apa yang salah? Bagaimana bisa kita saling berteriak menginginkan hal yang sama tapi dengan bahasa berbeda? atau mungkin ini sesederhana masing-masing kita memiliki gagasan sendiri mengenai cara bagaimana mesti bersama?
Bahkan, jawabannya mungkin sesepele egoisme.
Maka, maaf.
untuk aku yang terlalu sulit, selalu senang membuat segalanya jadi rumit.
untuk aku yang sedikit-sedikit merengek minta lepas atau terkadang terlalu keras.
Terimakasih telah bersabar sejauh ini dan semoga kamu tetap sabar sampai nanti.
bening yang diserap bantal
ada yang harus buru-buru dibesut agar tidak jatuh dan diserap oleh bantal,
agar tidak bernasib sama dengan bening-bening pendahulunya.
mungkin kamu tidak tahu,
tapi bantal-bantal ini telah menyerap terlalu banyak dari yang bisa ia tampung.
Langganan:
Postingan (Atom)




