percayalah,
rasa takut itu,
hanya berani di awal saja kawan,
setelah hal yang kita takuti itu berlalu,
kemana rasa takut itu?
dia telah lari tunggang langgang tanpa kita ketahui,
sudah ku bilang kan,
rasa takut itu seperti pengecut,
iya benar, dia pengecut,
Kamis, 03 Februari 2011
aku vs rasa takutku
wahai rasa takut yang bersembunyi di balik jantungku,
keluarlah!
jangan mengendap seperti itu, seperti pengecut saja kau,
jangan kau ganggu degup jantungku dan membuatnya takikardi,
sini, hadapi aku langsung,
sekarang,
dan hanya kita berdua,
kan ku libas kau dengan pedang brisingr yang ku pinjam dari eragon,
kau tahu, ini pedang terhebat di dunia,
jangan berani macam-macam denganku,
sekali lagi kau ganggu jantungku,
ku libas kau sampai mati !
keluarlah!
jangan mengendap seperti itu, seperti pengecut saja kau,
jangan kau ganggu degup jantungku dan membuatnya takikardi,
sini, hadapi aku langsung,
sekarang,
dan hanya kita berdua,
kan ku libas kau dengan pedang brisingr yang ku pinjam dari eragon,
kau tahu, ini pedang terhebat di dunia,
jangan berani macam-macam denganku,
sekali lagi kau ganggu jantungku,
ku libas kau sampai mati !
semoga mereka yang sakit lekas diberi kesembuhan ya Allah,
maafkan aku jika tak sempat menjenguk kalian..
maafkan aku jika tak sempat menjenguk kalian..
Rabu, 02 Februari 2011
tak berharap jadi pasien
aku memang suka mengamati para dokter,
mengamati cara mereka menulis,
cara mereka melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik,
cara mereka bersabar saat pasien tidak bisa di ajak kerjasama,
dan cara mereka tersenyum walau bekerja dari pagi hingga malam,
tapi, sungguh,
aku tak berharap bahwa akulah yg akan menjadi pasiennya sekarang.
mengamati cara mereka menulis,
cara mereka melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik,
cara mereka bersabar saat pasien tidak bisa di ajak kerjasama,
dan cara mereka tersenyum walau bekerja dari pagi hingga malam,
tapi, sungguh,
aku tak berharap bahwa akulah yg akan menjadi pasiennya sekarang.
Senin, 31 Januari 2011
janjiku untukmu, pasienku sayang
Bismillah,
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum giat menimba ilmu di semester satu,
sejujurnya ku pergi menimba ilmu hanya karena perintah ibuku.
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum pelajari semua yang ada di semester dua,
sejujurnya ku mulai bosan menerima ilmu dari orang yang duduk di depan lalu hanya membacanya.
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum paham apa yang ada di semester tiga,
sejujurnya ku beli banyak buku hanya untuk berjaga-jaga.
pasienku sayang,
maafkan dosaku-dosaku,
di lemari sekarang kulihat penuh buku, penuh ilmu,
ku tahu itu bekalku namun ku remehkan satu persatu,
namun, sekarang ku sadar bahwa AKU SELAMA INI KELIRU.
SEKARANG,
pasienku sayang,
ku sadar belum siap masuk semester empat,
namun ku berjanji kan ku kejar ketertinggalanku meskipun harus belajar dari jam enam sampai jam enam.
pasienku sayang,
ku sadar tak sepintar teman-temanku,
namun kan ku perbesar tekad dan ku maksimalkan waktuku tuk mencari ilmu.
pasienku sayang,
ku sadar tak serajin teman-temanku,
namun ku berjanji tak kan patah karena lelah dan terus mencari ilmu meskipun sakit menimpaku.
pasienku sayang,
ku sadar tak sehebat teman-temanku,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, ku kan berdiri di barisan terdepan dan berkata "itu tugasku!".
pasienku sayang,
ku sadar terkadang imanku naik dan turun,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, kan ku sempatkan tuk slalu mendoakan kesembuhanmu di setiap sujud panjang sepertiga malamku.
pasienku sayang,
ku sadar tak setampan atau secantik teman-temanku,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, kan ku berikan senyum terindahku hanya untuk mengurangi rasa sakitmu.
pasienku sayang,
ku sadar ku tak seramah teman-temanku,
namun ku berjanji apabila menemui anak kecilmu yang didiagnosis penyakit ganas oleh dokter spesialis rujukanmu,
kan ku datangi dan ku usap lembut rambut dan berbisik lembut di telinganya,
"dek..sini-sini...mau dengar cerita mbak nggak?"
pasienku sayang,
ini janjiku padamu,
hanya aku dan Tuhan-Ku yang tau serta orang lain yang melihat isi suratku.
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum giat menimba ilmu di semester satu,
sejujurnya ku pergi menimba ilmu hanya karena perintah ibuku.
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum pelajari semua yang ada di semester dua,
sejujurnya ku mulai bosan menerima ilmu dari orang yang duduk di depan lalu hanya membacanya.
pasienku sayang,
maafkan dosa-dosaku,
karena ku belum paham apa yang ada di semester tiga,
sejujurnya ku beli banyak buku hanya untuk berjaga-jaga.
pasienku sayang,
maafkan dosaku-dosaku,
di lemari sekarang kulihat penuh buku, penuh ilmu,
ku tahu itu bekalku namun ku remehkan satu persatu,
namun, sekarang ku sadar bahwa AKU SELAMA INI KELIRU.
SEKARANG,
pasienku sayang,
ku sadar belum siap masuk semester empat,
namun ku berjanji kan ku kejar ketertinggalanku meskipun harus belajar dari jam enam sampai jam enam.
pasienku sayang,
ku sadar tak sepintar teman-temanku,
namun kan ku perbesar tekad dan ku maksimalkan waktuku tuk mencari ilmu.
pasienku sayang,
ku sadar tak serajin teman-temanku,
namun ku berjanji tak kan patah karena lelah dan terus mencari ilmu meskipun sakit menimpaku.
pasienku sayang,
ku sadar tak sehebat teman-temanku,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, ku kan berdiri di barisan terdepan dan berkata "itu tugasku!".
pasienku sayang,
ku sadar terkadang imanku naik dan turun,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, kan ku sempatkan tuk slalu mendoakan kesembuhanmu di setiap sujud panjang sepertiga malamku.
pasienku sayang,
ku sadar tak setampan atau secantik teman-temanku,
namun ku berjanji saat menjadi dokter, nanti, kan ku berikan senyum terindahku hanya untuk mengurangi rasa sakitmu.
pasienku sayang,
ku sadar ku tak seramah teman-temanku,
namun ku berjanji apabila menemui anak kecilmu yang didiagnosis penyakit ganas oleh dokter spesialis rujukanmu,
kan ku datangi dan ku usap lembut rambut dan berbisik lembut di telinganya,
"dek..sini-sini...mau dengar cerita mbak nggak?"
pasienku sayang,
ini janjiku padamu,
hanya aku dan Tuhan-Ku yang tau serta orang lain yang melihat isi suratku.
Jumat, 28 Januari 2011
deteksi dini kanker mulut
Jangan sembarang menyepelekan sariawan. Meskipun sepertinya penyakit yang simpel dan bisa sembuh sewaktu-waktu, ada juga sariawan yang bisa mengarah menjadi tumor, bahkan kanker. “Harus waspada jika ada bercak putih di rongga mulut yang tidak sembuh meskipun sudah lewat dua minggu,” ungkap Prof. Dr. Peter Agus, drg., Sp.BM (K), Guru Besar Universitas Airlangga dalam bidang Ilmu Bedah Mulut.
Bercak putih semacam itu bisa jadi merupakan ciri awal kanker rongga mulut. Berbeda dengan sariawan yang terasa sakit, bercak putih ini tidak menimbulkan sakit sama sekali. Selain bercak putih, harus diwaspadai juga bila ada bercak merah di rongga mulut yang tidak bisa hilang setelah dua minggu. Bercak merah ini jauh lebih berbahaya karena penyebaran dan keganasannya lebih tinggi.
Berdasarkan data UNESCO, angka kematian akibat kanker rongga mulut adalah satu orang setiap hari di seluruh dunia. Data di Amerika Serikat bahkan menyebutkan kanker rongga mulut menyebabkan satu orang meninggal setiap jamnya. Kematian akibat kanker rongga mulut biasanya diakibatkan sel-sel kanker yang sudah sangat menyebar hingga ke paru-paru hingga menyebabkan sesak napas.
Menurut Prof. Peter, kanker rongga mulut bisa disebabkan berbagai macam, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal bisa disebabkan karena ada perubahan genetika. Sedangkan faktor eksternal bisa disebabkan karena tembakau, alkohol, bahan karsinogenik, radiasi, virus HPV 16 dan HPV 18, serta pola diet rendah buah-buahan dan sayur-sayuran.
Dari semua faktor-faktor tersebut, Prof. Peter menganggap pola hidup masyarakat masa kini yang serba instan sebagai faktor utama pencetus kanker rongga mulut. Masyarakat sekarang terbiasa mengkonsumsi makanan instan dan cepat saji. Padahal makanan-makanan tersebut banyak mengandung bahan karsinogenik. Zat-zat tersebut mengundang virus HPV 16 dan HPV 18 sebagai pencetus kanker.
Sebenarnya tubuh manusia memiliki pertahanan tersendiri untuk mencegah penyakit dan dan virus. Menurut Prof. Peter, manusia bahkan memiliki gen anti kanker dalam darah. Namun karena pola hidup yang tidak sehat menyebabkan gen tersebut rusak, dan menyebabkan tumor mengganas dan menjadi kanker.
Selain itu, pola hidup masyarakat sekarang juga berbeda dengan dengan masyarakat masa lalu. Misalnya perilaku menyimpang akibat arus globalisasi yang tak terbendung. Prof. Peter mengatakan, beberapa kasusu kanker rongga mulut memiliki kesamaan dengan kanker serviks. Hal ini umumnya karena perilaku seksual yang menyimpang, seperti hubungan seks melalui mulut (oral).
Untuk mendeteksi dini dan mencegah kanker rongga mulut, Prof. Peter mewanti-wanti masyarakat agar memperhatikan keadaan tubuh, terutama bagian rongga mulut. Hal pertama yang bisa dideteksi dari kanker rongga mulut adalah adanya becak putih atau merah yang tidak bisa hilang. Cara kedua adalah deteksi lewat pemeriksaan molekuler atau lewat ludah. Cara kedua ini hanya bisa dilakukan di laboratorium atau rumah sakit.
“Masalahnya, pasien sering kali terlambat ditangani. Biasanya pasien datang ke rumah sakit dengan tumor atau kanker stadium lanjut,” ujar Prof. Peter. Karena itu, masyarakat diharapkan untuk rutin mengunjungi dokter gigi meskipun tidak ada keluhan. Jadwal kunjungan ke dokter gigi pun lebih baik ditingkatkan. Jika dulu hanya cukup enam bulan sekali, akan lebih baik jika ditingkatkan menjadi tiga bulan sekali.
Kamis, 27 Januari 2011
ikhwan sejati
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya
“Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati”
Sang ibu tersenyum dan menjawab
“Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat kerja
Tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
Tetapi dari hati di balik itu
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja
Tetapi dari komitmennya terhadap akwat yang dicintainya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan
Tetapi dari tabahnya ia menjalani lika-liku kehidupan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya ia membaca Al Quran
Tetapi dari konsistensinya dia menjalankan apa yang ia baca.”
Setelah itu, ia kembali bertanya
“Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ibu?”
Sang ibu memberinya buku dan berkata
“pelajari tentang dia”
Ia pun mengambil buku itu
“MUHAMMAD”, judul yang tertulis di buku itu
“Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati”
Sang ibu tersenyum dan menjawab
“Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat kerja
Tetapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
Tetapi dari hati di balik itu
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja
Tetapi dari komitmennya terhadap akwat yang dicintainya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan
Tetapi dari tabahnya ia menjalani lika-liku kehidupan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya ia membaca Al Quran
Tetapi dari konsistensinya dia menjalankan apa yang ia baca.”
Setelah itu, ia kembali bertanya
“Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ibu?”
Sang ibu memberinya buku dan berkata
“pelajari tentang dia”
Ia pun mengambil buku itu
“MUHAMMAD”, judul yang tertulis di buku itu
Langganan:
Postingan (Atom)
