ada yang bilang, "Kita sedang berlari saat ini, beberapa lari untuk mengejar mimpi dan janji masa depan, lainnya lari menjauhi masa lalu sejauh-jauhnya."
Senin, 15 Juni 2015
aku dan rasa bahagia ini
begitu sederhananyakah definisi bahagia? di tiap ia tersenyum, mengapa jadi aku yang berbunga-bunga dan menari riang di dalam dada?
esok hari
Ulum.. suatu hari kisah kita akan menjelma menjadi hanya selembar foto. Di sana, barangkali kita sedang tersenyum. Mata kita berdua menatap ceria ke arah kamera. Sementara langit di belakang kita sedang berkemas menuju senja.
Tentang foto itu.. ah, kamu selalu tertawa ketika aku memintamu membuka mata lebih lebar saat tersenyum. Dan caramu tertawa justru menghilangkan keduanya. Maka aku hanya bisa memandangmu dengan tatap mata yang keduanya buta.
Ulum.. suatu hari kisah kita akan menjelma menjadi hanya selembar gambar..yang tak utuh untuk menceritakan semuanya. Semua kecemasan yang sudah kita lalui, semua doa yang pernah kita bacakan, semua tangis yang pernah kita curahkan, semua tawa yang terderai, semua yang pernah kita genggam atau yang hilang dalam dekapan.
Tentang waktu, apa yang mesti kita risaukan? bukankah hari ini adalah esok yang kemarin pernah kita cemaskan itu? Maka tenang saja: Hari ini aku lebih mencintaimu dari kemarin, meski tak sebesar yang akan kuberikan esok hari.
Salam sayang,
Diwiasti Firdausi Yasmin.
Jumat, 10 April 2015
Nightingale Floor ~
Mungkin karena memang pada dasarnya
aku adalah orang yang terlahir untuk menikmati kesendirian, aku jadi terbiasa
untuk bepergian sendiri, melakukan semuanya sendiri, menjalani apa yang aku
suka tanpa harus membebani orang lain.
Kesendirian terkadang membuat otakku
bekerja lebih hebat ketimbang biasanya, berusaha merubah apa yang ada di depan
mata, menjadi kata-kata yang sesuai dengan apa yang hati rasa. Kesendirian
kerap membuat otak sisi sebelah kananku lebih sering bekerja. Dan jujur, karena
hal itulah dalam kesendirian aku selalu merasa bahwa hidupku jauh lebih
berwarna.
Hari ini aku pulang lebih awal, aku
sempatkan untuk mampir di sebuah toko buku gramedia utama di Surakarta, di
jalan Slamet Riyadi. Selain karena toko buku ini lebih besar, lantai dua yang
berisi buku cerita dan novel itu kerap lebih sepi ketimbang toko buku biasanya.
Setelah menitipkan tas, aku pergi ke
bagian buku-buku novel tebaru. Tampaknya ada banyak pengarang-pengarang baru
yang tidak aku kenal, dan novelnya pun terlihat menarik dari sinopsis dan
cover-covernya. Aku lebih memilih membaca cerita orang luar ketimbang orang
pribumi, karena cerita mereka lebih bervariasi ketimbang novel-novel Indonesia
yang begitu-begitu saja isinya.
Aku mencari satu buku yang sudah
dibuka, mengambilnya, lalu duduk di lantai sembari bersandar pada rak buku.
Lagu instrumental Utada Hikaru yang kerap diputar oleh pihak toko buku membuat
pikiranku semakin melayang jauh meninggalkan raga yang masih duduk bersandar di
samping rak buku.
“Permisi..”
Tiba-tiba pikiranku yang sedang
melayang jauh tiba-tiba ditarik paksa kembali ke dalam kepalaku ketika ada
seseorang yang memecah keheninganku. Seorang laki-laki mengenakan tas ransel
yang umurnya tak lebih jauh dariku lewat di depanku.
“Ah iya maaf.” jawabku sambil melipat kaki.
Aku melirik ke arahnya sebentar, ia
tampak sibuk mencari-cari buku perihal kedokteran. Ah mungkin dia memang anak
kedokteran, sama sepertiku. Di tangan kirinya, ada buku tentang Anatomi, sedangkan
sekarang ia berpaling dan melihat-lihat ke arah rak novel yang sedang berjajar
rapih di depannya.
Selanjutnya aku tidak mempedulikan
dia lagi, aku kembali membaca buku yang tengah aku pegang dari tadi dan
membiarkan pemikiranku terbang bebas lagi. Satu-dua-tiga menit aku habiskan,
sesekali aku mencoba mengganti posisi duduk karena lelah, dan sesekali juga aku
melirik ke arah laki-laki tadi yang sekarang sedang berdiri di depan rak novel
dan membaca buku seperti apa yang aku lakukan.
Bodoh, kenapa tidak ikut duduk saja
di lantai? Dasar, gengsinya tinggi sekali. Apa tidak capek dia seperti itu
terus? berdiri membaca buku sembari mengapit buku anatomi yang super berat itu
di antara lengan dan ketiaknya. Ah aku malah mencibir orang lain! daripada
seperti ini terus, mending aku lanjut membaca lagi saja; Pikirku.
Sedang membaca asik-asiknya,
perasaanku mendadak tidak enak. Apa kalian pernah merasakan perasaan janggal
ketika merasa ada yang memperhatikan kalian? Nah aku sedang merasakan hal itu.
Dengan sigap aku langsung menengok ke arah tatapan yang sedari tadi mengganggu
aktivitasku ini.
Ketika aku menatapnya, ia langsung
memalingkan pandangnya berharap aku tidak menyadarinya. Dasar, maunya apa sih
nih cowok? aku kesal sendiri dalam hati sebelum pada akhirnya kembali
memutuskan untuk tidak terlalu peduli dan melanjutkan membaca lagi.
3 menit berlalu, aku merasa tidak
enak lagi. Perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan tadi. Aku menghela
nafas panjang, menutup buku, lalu melihat ke arah tatapan itu. Dan kembali
terulang lagi, ketika aku menatapnya, ia langsung memalingkan tatapannya
seperti apa yang ia lakukan waktu pertama tadi.
Namun kali ini aku jengkel, aku
terus menatapnya bahkan ketika ia pura-pura sedang membaca buku novel yang
tengah ia pegang itu. Aku menatapnya terus, tidak melirik, namun menatap,
seluruh wajahku sedang mengarah kepadanya. Tentu lama-lama ia juga merasakan
perasaan yang aku rasa ketika ditatapnya tadi. Secara pelan-pelan ia mulai
melirik ke arahku dan pada akhirnya pandangan kita bertemu.
Aku diam saja, tidak bertanya. Toh
apa yang harus aku tanya juga? Dia terlihat salah tingkah, sebelum pada
akhirnya dia mendatangi aku pelan-pelan.
“Maaf..” Katanya sungkan.
“Ya?” Jawabku.
“Itu buku apa ya kalau boleh tau?” Ia menunjuk ke arah buku yang tengah aku baca.
“Nightingale Floor.” Jawabku dingin.
“Tentang apa?”
“Jepang.”
“Ngg.. kalau boleh tau, di mana ya
rak tempat menyimpan buku itu?” Ia
mulai mencari-cari letak buku dengan cover yang sama di sekitarku.
“Ini, baca saja, kebetulan cuma ada
satu buku yang plastiknya sudah dibuka.”
“Eh, kamu kan lagi baca. Nggak,
nggak usah.” Ia menolak halus.
“Sudah selesai kok.” Jawabku
Aku memberikan buku itu kepada
dirinya. Ia mengambilnya lalu berdiri di depanku sembari membaca sinopsisnya
terlebih dahulu, lalu kemudian membaca halaman yang pertama.
“Duduk saja, jangan berdiri, lagian
buku Anatomi kamu itu berat kan?” Aku
menunjuk ke arah buku kedokteran yang ia apit di antara tangan dan ketiaknya.
“Ah iya, ikut ya..” Ucapnya sembari duduk bersila di depanku.
“Anak kedokteran?” Tanyaku memecah keheningan.
“Iya.” Jawabnya sambil tersenyum sebentar lalu kembali fokus
kepada buku yang tengah ia baca.
“UNS?”
“Bukan, UMS.”
“Haaa, semester berapa emang?”
“Tahun ini masuk semester 6”
“Udah mulai bikin skripsi dong?”Jawabku
"Iya, skripsiku tentang Anatomi, makanya aku beli buku ini"
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya sebelum pada akhirnya
kita berdua kembali terdiam. Aku diam sebentar, berdiri, lalu mencari buku yang
kemasannya sudah dibuka lagi. Ada satu buku yang tampaknya menarik, judulnya
pun lucu. “From One Dorm, To Another Dorm.” atau artinya, dari satu
pintu kos, ke pintu kos lainnya.
Menceritakan tentang pergaulan
seorang pria barat yang tak lepas dari sex addict, yang pada akhirnya
pergi dari satu asrama wanita ke asrama wanita lainnya hanya untuk melakukan
sex satu malam saja. Sebelum pada akhirnya ia dibuat menetap pada satu pintu
kamar tepat di sebelah pintu kamar wanita yang pernah menemani kencan satu
malamnya.
Karena merasa ceritanya nyaman untuk
dibaca, akhirnya aku kembali duduk dan tak bersuara kembali. Suasana saat itu
begitu hening padahal ada dua anak manusia yang sedang duduk di situ.
Beberapa kali, mataku meliriknya,
lalu membaca lagi. Meliriknya sekali lagi, lalu membaca lagi. Begitu saja terus
hingga aku sendiri tidak tahu aku sedang membaca cerita tentang apa. Namun secara tiba-tiba, dia berdiri,
merapihkan bajunya lalu bersiap pergi. Aku yang sedari tadi memang sedang
memperhatikannya langsung cepat-cepat bertanya,
“Mau pergi?” Tanyaku.
“Iya, aku kayaknya mau ambil yang
ini.” Ucapnya seraya mengacungkan buku
Nightingale Floor yang masih dalam kemasan plastik.
“Makasih ya, bukunya bagus.” Ia tersenyum.
“Oh iya, Dimas” Ucapnya lagi sembari menjulurkan tangan.
“Ah iya.” Aku langsung buru-buru berdiri. “Asti, namaku Asti.
Salam kenal Dokter Dimas.” Aku menangkupkan tanganku sembari tersenyum.
“Sekali lagi makasih yaa. Semoga kita ketemu lagi” Ucapnya
“Iya, sama-sama” Ucapku membalas
Ia pun perlahan berlalu setelah
mengambil kembali buku Anatomi yang sempat ia letakan di lantai tersebut.
Semakin lama, ia semakin tidak terlihat dalam pandanganku. Dan entah kenapa aku
masih terpaku berdiri tanpa melakukan apa-apa lagi. Pikiranku tak lagi melayang
di antara buku-buku, pikiranku melayang di antara senyum laki-laki yang baru
saja aku kenal itu.
Aku menarik napas panjang, dan
kembali duduk di tempat pertama aku terduduk tadi lagi. Aku ambil
buku Nightingale Floor yang sudah dibuka kemasannya itu, lalu pura-pura
membacanya, berharap esok waktu ia datang lagi. Sudah lebih dari 3 tahun sejak
kejadian itu, dan sudah lebih dari beberapa kali aku menyempatkan diri mampir
ke toko buku yang sama, duduk di tempat yang sama, membaca buku yang sama, dan
masih juga mengharapkan kejadian yang sama. Aku sudah membaca
buku Nightingale Floor ini lebih dari 3 kali; pun keempat seri buku yang
lainnya. Berharap suatu saat Dimas akan datang lagi, lalu kita berbincang-bincang
mengenai Takeo—tokoh utama pada buku Nightingale Floor— sang penguasa Clan
Otori, atau tentang Kenji sang Ninja yang sangat hebat itu, atau mungkin juga
bercerita tentang bagaimana kehebatan Kaede; istri Takeo yang dipaksa
menjalankan pemerintahan sebuah Clan yang ternyata menjadi musuh utama dari
Clan Otori itu sendiri.
Apa Dimas sudah menjadi dokter
sekarang?
Apa Dimas sering ke tempat ini seperti apa yang aku lakukan juga?
Entahlah.
Apa Dimas sering ke tempat ini seperti apa yang aku lakukan juga?
Entahlah.
Aku menghela nafas panjang,
mengembalikan kembali buku Nightingale Floor yang sedang aku pegang kembali ke
tempatnya tadi lalu bergegas berdiri meninggalkan tempat biasa aku duduk
sendirian semasa kuliah itu. Sudah hampir tiga tahun semenjak kejadian itu
berlalu. Dan sayangnya,
Hari ini,
Dimas tidak ada lagi.
Dimas tidak ada lagi.
Selasa, 07 April 2015
hujan itu bagus kalau jatuh.
kayak bintang kalau jatuh.
kayak daun kalau jatuh.
jadi kenapa kita harus takut jatuh?
semua pasti pernah jatuh.
tapi,
jangan jatuh cinta pada tulisanku. meski kau pandai berenang, aku tak mau kau sampai terhanyut. setiap orang bisa menulis yang hebat. siapa saja bisa menjadi seorang wordsmith kan?
aku pernah jatuh cinta pada tulisan seseorang. belakangan aku menyesal. aku selalu ingin dicintai dengan utuh, tapi aku sendiri sulit untuk mencintai dengan utuh pula. bagaimana bisa kau bilang cinta saat tak mampu berlaku adil pada perasaanmu sendiri? cobalah. coba ingat apa yang membuatmu jatuh cinta sekarang.
jangan jatuh cinta pada tulisanku. terlalu banyak yang tidak kau tahu. begitulah. aku pun sedang belajar untuk mencintaimu seutuhnya.
mencintai masa lalumu. masa kinimu. masa depanmu. mencintai yang kau miliki dan yang tidak kau miliki. mencintai yang kau bisa dan yang tidak kau bisa. mencintai pekerjaanmu. mencintai keluargamu. mencintai teman-temanmu. mencintai mimpi-mimpimu. mencintai tempat tinggalmu. mencintai saat kau dekat dan saat kau jauh. mencintaimu saat kau bicara dan saat kau diam. lalu menghargai, menghargai setiap potong perbedaan yang kita punya. menghargai keputusan-keputusan yang kau pilih. menghargaimu tidak hanya sebagai pemimpinku, tetapi juga temanku.
jangan jatuh cinta pada tulisanku. kau tak tahu betapa bahayanya itu.
kita sama-sama bisa.
aku bisa menemukan laki-laki yang lebih baik dari dirimu.
lebih baik masa lalunya. lebih baik tutur katanya. lebih baik sifatnya. lebih gagah lakunya. lebih pintar otaknya. lebih dewasa pemikirannya. lebih tampan parasnya. dan lebih segala-galanya.
begitupun kau.
kau bisa menemukan yang lebih baik dari aku. yang lebih baik dari sifatku, yang lebih cantik dari parasku. yang lebih anggun dari kemampuanku bertutur kata. yang lebih dari kemampuanku menyediakanmu makanan. dan yang lebih dariku segala-galanya.
namun ada alasan mengapa aku bertahan dan tak memilih yang lebih darimu. karena dari segala kelebihan mereka, mereka tak bisa membuatku lebih mencintai mereka ketimbang mencintaimu.
dan aku berharap kau pun memiliki pemikiran yang sama, kau tak mencari yang lebih dariku. aku akan mempertahankan orang yang tak peduli akan semua itu. bagiku, itu adalah kelebihan yang tak mampu dilebihi siapa-siapa lagi di seluruh dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)


