Minggu, 26 Januari 2014
minggat
aku tahu sekarang,
rumah sakit kupilih sebagai rumah kedua ku.
jadi jika suatu saat,
aku diusir dari rumah orangtuaku
atau digusur oleh ibu kosku,
maka di sinilah aku, merantau ke rumah sakit.
bayangkan,
satu. tidur di selasar lorongpun aku tak diusir.
dua. tersedia toilet bersih yang gratis, air gratis, juga listrik gratis.
tiga. akses angkutan kota mudah karena rumah sakit selalu berada di pinggir jalan besar.
empat. makanku pun terjamin, tersedia berbagai macam menu makanan yang bergizi, yang jika uangku habis, aku bisa mengutang dulu.
lima. aku tak perlu membersihkan apa-apa. lantai lorong alas tidurku disapu dan dipel setiap hari, toilet tempatku buang hajat pun sudah otomatis dibersihkan setiap hari.
enam. di tempat-tempat tertentu tersedia wifi yang dengan gamblang memberiku koneksi untuk melanglang buana sesuka hatiku.
tujuh. dan yang terpenting, tersedia perpustakaan besar yang bisa ku masuki setiap hari, dengan segala koleksinya yang tak akan pernah selesai ku baca seumur hidupku.
nah, lihatlah, betapa hebat bukan rumah keduaku?
jadi seharusnya tak ada lagi alasan untukku, untuk mengeluh.
seharusnya begitu..
puisi manis
aku akan tetap mencintainya
walaupun dia
terkadang egois
terkadang terlalu koleris
kurang romantis
dan sering membuatku masokis
tetapi dia
yang membuat hidupku terasa lebih manis
hahaha
Sabtu, 25 Januari 2014
sehari bersama haydar
Kamis, 23 Januari 2014
tabungan yg tak pernah bisa dicuri
tabungan harta,
bisa dalam sekejap dicuri
bisa dalam sekejap raib.
tetapi tabungan amal,
juga tabungan ilmu,
sampai mereka membunuh dan
mencincang-cincang tubuhmu pun,
mereka tidak akan pernah bisa mencurinya.
karena hampir mirip
"..sebab aku yakin kita tidak perlu membicarakan hal yang mungkin kita sudah sama-sama saling tahu. bukan karena tidak penting, tapi karena aku yakin kita punya jawaban yang hampir mirip.."
Senin, 20 Januari 2014
yakini dan kejar mimpimu
banyak orang yang memiliki banyak keinginan, tanpa pernah benar-benar menginginkannya. mereka hanya ingin, tapi tidak bertekad untuk mendapatkannya. itulah yang membuat mereka tidak mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.
jika kita menginginkan sesuatu, berkeraslah untuk itu. tidak cukup hanya dengan menginginkan, tapi kita perlu membulatkan tekad untuk kenginan itu.
mulai sekarang, katakanlah pada diri sendiri, "saya akan mendapatkannya, jika saya sungguh-sungguh menginginkannya!"
fokuslah pada keberhasilan-keberhasilan yang ingin kita capai.
kata prof.aris, rasakanlah seolah keberhasilan itu sudah kita raih. bayangkan dan resapi semua yang terkait dengan keberhasilan tersebut.
percayalah, ini akan sangat membantu kita untuk bisa mencapai impian-impian kita satu demi satu.
sesudah kesulitan ada kemudahan
mulai saat ini, yakinkan pada diri sendiri bahwa tidak akan ada yang sia-sia dalam hidup. termasuk juga dengan apa yang menimpa kita saat ini, pasti ada sebuah titik terang yang pada akhirnya akan membuat kita berkata,
"oh, jadi inilah maksud Allah menguji saya waktu itu."
bukankah di sekolah pun ulangan-ulangan dan ujian demi ujian juga tak pernah sia-sia? ketika tiba masa ujian, tandanya kita sudah semakin dekat dengan kenaikan kelas. pergunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin.
kunci yang harus kita miliki adalah yakin, tidak cukup hanya dengan percaya. yakinlah dengan momen menyakitkan seperti ini, Allah bermaksud membuka mata kita, bahwa kita bisa melakukan banyak hal positif.
karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Al-Insyirah 5-6)
ya, memang. perasaan nyaman, sesungguhnya adalah perasaan yang membahayakan diri kita sendiri. dan, untuk bangkit dan mencapai sesuatu, yang perlu kita lakukan justru adalah keluar dari comfort zone tersebut.
lihatlah kembali orang-orang besar yang terkenal sepanjang sejarah. mereka tidak lahir dan dibesarkan oleh sebuah kesenangan dan kemudahan. berbagai kamudahan hidup, akan menciptakan manusia-manusia yang manja. lalu bagaimana mungkin seorang yang manja bisa memimpin organisasi, perusahaan, atau bahkan bangsa?
tidak ada sejarah manapun yang mencatat tentang seorang besar tumbuh dengan kemudahan.
barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia akan diuji dengan suatu musibah (HR. Bukhari)
titik nol
"pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal.
sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu.
sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalananmu.
karena sesungguhnya perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan."
-paulo coelho, the alcemist-
menjadi dokter muda
terlepas dari semua tugas, semua suruhan dan sindiran, semua jam tidur yang tersita, serta semua rasa lelah yang terserap, tak bisa kupungkiri bahwa kehidupan seorang dokter muda itu sangat menyenangkan. tahap 1,5 tahun ini teramat sayang jika dilewatkan tanpa senyuman.
jadi, nikmati saja. karena semua cerita yang terjadi di rumah sakit ini kelak lambat laun akan kita rindukan.
iya kan?
Selasa, 14 Januari 2014
lautan
seekor ikan yang masih muda berputar-putar, berenang berhari-hari. ia terobsesi mencari lautan. ia ingin sampai dan merasakan enaknya lautan. katanya lautan itu enak. katanya lautan itu tempat terindah untuk ditinggali. makanya, ia tak segan berjuang habis-habisan.
dan suatu saat, ditemukannya seekor ikan yang lebih besar darinya. maka bertanyalah ia pada ikan itu.
"tahukah kamu jalan ke lautan?
ikan besar itu tertawa.
"bukankah kamu sekarang sedang berenang di lautan?"
accident
kamu siapa?
kamu seperti malaikat kematian
berpakaian serba hitam
kamu siapa?
kamu datang dari sisi kiri
dan menyerang otak kanan
kamu
siapa?
sadarkah
gara-gara kamu aku tak bisa bermain musik lagi..
to calm the storm
angels, answer me,
are you near if rain should fall?
am I to believe
you will rise to calm the storm outside?
surat-suratku
meskipun surat-surat ini kadang menyadarkanku akan betapa kesepiannya diriku, tapi ia lebih sering mengingatkanku tentang diriku sendiri dan tujuanku di sini, di kota orang.
dan dengan cara ini surat-surat itu tak akan kecewa jika suatu saat pembacanya telah pergi. karena penulis surat-surat itu kelak akan tau waktu di saat ia memang harus berpisah dengan pembacanya.
Senin, 06 Januari 2014
biru langit nusantara part 3
Aku
selalu yakin, berkenalan dengan orang baru itu harus dengan cara yang
mengesankan. Bagiku kalimat “hai, namaku asti. Namamu siapa? Senang berkenalan
denganmu” terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon
kawan.
Karenanya,
pagi itu, kusorongkan cokelat yang bungkusnya didominasi warna putih dan ungu
kepada sosok yang duduk di sebelahku. “mau cokelat ini?” tanyaku. Kubuka
sedikit kemasan cokelat yang langsung menyembulkan batang-batang cokelat dari
balik lapisan dalamnya.
“ah,
cokelat! Saya sangat suka cokelat. Tapi..terima kasih, saya sedang berpuasa,”
jawabnya santun.
Tadinya
aku agak kecewa karena penawaranku ditolaknya. Namun aku senang, karena
penolakannya didasarkan sebuah ibadah yang aku tahu benar maknanya. Sejurus
kemudian, kututup lagi kemasan cokelat yang sudah terlanjur robek itu, lalu
kujulurkan kembali kepadanya, “ambillah untuk berbuka puasa nanti. Kamu
berpuasa senin-kamis, ya?”. Dia terlihat begitu girang mendengar responku.
Dengan
perkenalan sederhana, jadilah kami kawan dekat sejak itu. Biru langit
nusantara. Dia menjadi rahmat buatku. Rahmat pertemanan dari sebatang cokelat.
sisi lain dari travelling
Sudah
terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang tempat-tempat yang
wajib dikunjungi berikut trip-trip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat,
semua dikemas untuk pembaca. Tapi buat aku sendiri, hakikat sebuah perjalanan
bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tampat lain. Bukan
sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya
semurah-murahnya.
Menurutku,
makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan
tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi,
memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan
oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari mekkah ke madinah.
Umat
islam terdahulu adalah “traveler” yang tangguh. Jauh sebelum vasco de gama
menemukan semenajung harapan, atau colombus menemukan benua amerika,
musafir-musafir islam telah menyeberangi 3 samudera hingga indonesia, berkelana
jauh sampai ujung negeri china, menembus himalaya dan padang pasir gobi. Mereka
adalah orang-orang yang tidak pernah ragu untuk meninggalkan rumah dan belajar
hal-hal baru dari dunia luar sana.
Bukankah
dalam al-quran juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta’aruf, dan saling
belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi
Allah?
Wahai anakku! Dunia
ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka
jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada
Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai
layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda
perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap cobaan.
(Ali bin Abi
Thalib ra.)
Jumat, 03 Januari 2014
lingkungan
dari semua perjalananku, aku mencatat bahwa semakin tinggal jauh dari kota, orang semakin baik hati dan lebih ramah. ini ada kaitannya dengan stres dan lingkungan di kota. mungkin juga dikarenakan kurangnya kawasan hijau di perkotaan.
aku berpikir, apakah kebaikan hati dan keramahan dapat dikembangkan dengan cara memperindah lingkungan?
Kamis, 02 Januari 2014
apa impianku di 2014?
jika ditanya apa impianku di 2014,
maka itu adalah mewakilkan impian-impian orang lain.
kakak perempuanku yang semoga bisa menyempurnakan separuh agamanya di tahun ini,
adik laki-lakiku yang semoga bisa meneruskan ke bangku kuliah di jurusan yang memang terbaik untuknya,
serta adik perempuanku yang juga akan meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi dan melihatnya mulai menutup aurat.
ya, tahun ini mimpiku adalah mimpi orang-orang terdekatku.
karena khusus untuk diriku sendiri, tahun ini aku hanya perlu bersabar atas proses yang sedang aku jalani.
melewati satu demi satu kota, meneruskan perjalanan keliling duniaku, sebelum akhirnya banyak mimpi yang akan berawal dari proses ini di tahun depan.
membantu orang lain mengejar impiannya juga rasa bahagianya sama saja bukan?
jadi di sinilah aku.
calon dokter sukses mulia.
sajak 4 baris 5 minggu sekali
aku mengirim surat untukmu 5 minggu sekali.
tanpa balasanmu hadir pun aku tetap menuliskannya 5 minggu sekali.
agar ketika kau rindu kau cukup membacanya berulang kali
karena aku tahu tak mampu lagi di sampingmu suatu hari nanti
kenangan
kenangan. sebuah dunia yang aneh. dunia itu seperti sepasukan pemberontak yang sangat bengal atas sebuah kekuasaan yang bernama kehendak. bahkan tetap sebagai pemberontak yang mampu menandingi kecerdikan kekuasaan yang lain, alam pikir. ia bahkan tetap saja sebagai sepasukan pemberontak yang culas, yang terus merecoki kekuasaan kesadaran.
ia, kenangan, bisa datang dari apa saja, dari mana saja, seperti setan. ia bisa menyentak ketika kita sedang mengaduk minuman. ia bisa menerabas hanya lewat satu adegan kecil di film yang sedang kita tonton. ia bisa menyeruak dari sebuah deskripsi novel yang sedang kita baca. ia bersemayam di mana-mana, di wangi parfum orang yang bersimpangan dengan kita, di saat kita sedang termangu di pantai, di saat kita sedang mendengarkan lagu.
Ia
memiliki sejenis keangkuhan yang dimiliki oleh setan. Seakan-akan jauh hari ia
sudah bilang, “Tuhan kehendak, Tuhan pikiran, Tuhan kesadaran, aku bersedia
masuk ke dalam neraka, tapi ijinkanlah aku mendatangi seluruh peristiwa,
menggoda mereka, menyeret mereka untuk menerima godaanku..”
Ia
datang tak diundang. Ia pergi tak diantar. Seperti jelangkung.
Kenangan
itu juga seperti kubangan lumpur hidup. Tanpa sadar kita telah terperosok di
dalamnya, dan ketika kita mencoba keluar dari kubangan itu, ia semakin menyedot
masuk.
Ia,
kenangan, seperti sepasukan kecil gerilyawan yang liat. Ia bisa bersembunyi di
balik angin, malam, dan hujan. Lalu meremukkan seluruh batalyon tempur. Dan
sialnya, ia beroperasi dengan meminjam banyak sistem operasi yang ada. Ia bisa
datang dengan pembedaan, ia bisa datang dengan melakukan persamaan. Ketika kita
sedang membaca sebait puisi sedih, ia akan mendatangi dengan persamaan. Ketika
kita sedang membaca puisi yang memberi semangat, ia datang dengan pembedaan,
menyeret semangat kita menjadi sedih kita. Dan itu adalah kesialan terbesar.
Kenangan
dan kesedihan. Dua bersaudara yang aku tidak pernah tahu sampai detik ini, yang
manakah yang lebih tua, dan yang mana yang lebih muda.
Ada
orang yang bilang bahwa pada awalnya, awal sekali, setiap manusia yang lahir
sudah dikutuk untuk lebih dulu kenal kesedihan. Buktinya, setiap bayi yang
lahir selalu menangis, dan bukannya tertawa.
Tapi
waktu itu aku menolak tesis itu. Karena menurutku tidak ada hubungan antara
menangis dan kesedihan. Banyak orang yang mengekspresikan kesenangan dengan
menangis. Lalu alasan yang lain adalah karena tangisan pertama itu adalah
bahasa natural, refleks dari keadaan asfiksia, lagi-lagi tidak ada hubungannya
dengan kesenangan dan kesedihan.
Tapi
kemudian aku meragukan bantahanku sendiri. Pengalamanku atas masa laluku
meragukan sendiri jawabanku, tetapi pada dataran yang lebih substantif:
kenangan sedih itu lebih mendasar. Mengapa dulu, aku selalu mencoba
mendokumentasikan momen-momen gembira? Mengapa album foto keluargaku selalu
berisi keriangan? Mengapa aku tidak pernah mendokumentasikan saat kakekku sakit?
Mengapa mama tidak pernah memotretku saat aku terkapar sakit? Mengapa
orang-orang pacaran itu melakukan potret berdua saat dimana mereka tidak sedang
bertengkar? Mengapa orang-orang itu memenuhi album foto mereka dengan acara
ulang tahun, wisuda, momen pernikahan, dan lain-lain? Kenapa momen sedih tidak
mencoba dikekalkan?
Aku
bisa saja menjawab tetap ada dokumentasi kesedihan. Tapi berapa banyak? Berapa
perbandingannya? Dan untuk dikonsumsi oleh siapa?
Kalau
misalnya ada orang mendokumentasikan saat-saat demonstrasi, bukankah di sana
yang ada kesedihan? Di sana ada airmata dan darah. Tapi kalau aku mau jujur
lagi, tidak, tidak itu. Orang mendokumentasikan untuk keperluan yang lain. Dan
saat aku memandang foto itu, yang sesungguhnya muncul, dan lagi-lagi susah
diakui adalah, yang muncul adalah perasaan heroisme yang malu-malu kucing.
Mengakulah!
Sudah
dari awal, sepertinya, kenangan kesedihan lebih berjumawa dibanding kenangan
akan keriangan. Kenangan sedih tidak butuh alat pencatat. Ia, kenangan sedih
itu, justru ingin disingkirkan melalui catatan-catatan atas kebahagiaan dan
kesenangan. Ia ingin dibakar sampai habis, dilenyapkan. Lihatlah, betapa manjanya
pangeran kecil yang bernama kebahagiaan itu. Sang pangeran dikelilingi oleh
punggawa-punggawa catatan: foto-foto, kado-kado, dan suvenir.
Dan
lihatlah betapa pendek jarak yang terbentang antara kenangan gembira dengan
kegembiraan itu. Tapi lihatlah, betapa jauhnya jarak yang dibentangkan antara
si pengingat kesedihan dengan kenangan sedih.
Jarak?
Ya, jarak!
Sederhana.
Ambillah contoh di saat kamu kelas dua SD, ibumu sakit, calon adikmu gagal
lahir ke dunia. Sekarang ingat baik-baik, kesenangan apa saja yang kamu ingat
di saat kamu duduk di kelas dua SD itu?
Tidak
ada.
Nah!
Langganan:
Postingan (Atom)