Pages

Jumat, 15 Agustus 2014

antara awan dan hujan




mungkin kita bisa bicara sejenak tentang hujan.
juga tentang awan yang berarak di langit sebelum tetes air jatuh menjadi gerimis.
mungkin kita selalu percaya, bahwa awan adalah kumpulan titik air yang mengapung di atas permukaan bumi.
kita membicarakan hal itu dalam buku-buku cetak pelajaran.
itu yang selalu kita tahu.


tapi bagiku, ada sesuatu yang lebih dari itu.


mungkin aku hanyalah seorang yang memercayai filosofi konyol semacam kesetiaan.
tentang mereka yang selalu berjanji untuk berbagi, meski tak selalu bahagia.


bukankah itu yang selalu dilakukan hujan dan awan?
mereka adalah pasangan yang bercerita tentang kesetiaan.
yang selalu muncul di waktu yang bersamaan.
kadang kehadirannya dicibir, kadang pula dipuja.
tapi mereka tak pernah berhenti,
tak pernah mengubah pola dan menjadikan sesuatu yang berbeda.


jadi karena itu, mereka disebut setia?
bisa jadi.
atau bisa juga, ini adalah rancangan yang sudah dituliskan Tuhan sejak awal.
bahwa Tuhan memang menciptakan pola seperti itu bagi mereka berdua.
hujan dan awan sudah dipersatukan sejak dulu.
dan pertemuan mereka kemarin, hari ini, dan sampai ratusan tahun nanti, akan tetap terjadi seperti itu.


tapi masalahnya, bagaimana jika salah satu ingkar?


ah, jadi ingat salah satu lirik puisi kesukaanku,
karya bapak sapardi.
kurang lebih bunyinya begini:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

cinta itu sebenarnya sederhana ya?
manusia saja yang terkadang membuatnya terlalu banyak syarat.




yang lengkap dan pelengkap itu, berbeda





kamu mencintaiku dengan hati.
kamu menatapku karena rasa.
kamu berucap dan melakukan semuanya
bukan dengan kebanyakan cara yang mereka lakukan.
kamu berbeda
kamu istimewa
bersamamu saja, aku yakin selamanya.
karena aku tahu, aku tak butuh wajah untuk dinikmati.
aku tak butuh tawa untuk sekadar menyenangkan.
apalagi penampilan yang bisa dibilang hanya memesonakan.
ada yang lebih dari itu.


bukankah tempat untuk mencintai secara pasti hanyalah 'hati'?
bukankah dari ratusan kriteria yang aku cari sebagai sempurna,
sebenarnya aku hanya perlu satu saja?
aku bukan mencari sesuatu yang lengkap, tapi pelengkap.





Minggu, 10 Agustus 2014

rindu





ah..tiba tiba rasanya rindu..


rindu obrolan hangat di beranda di sela sela sirup merah favoritku saat menyuguh dia datang. rindu perasaan hangat yang selalu membuncah hanya dengan melihat senyum dan mendengarnya memanggil nama saya dengan halus. rindu omelan omelannya yang selalu muncul saat saya terlambat makan dan malas minum obat. rindu dengan entah bagaimananya ia selalu bisa memperlihatkan hal manis dari setiap masalah saya. rindu perasaan dimana si sahabat saya akan berkata "kamu ada cerita apa hari ini?". rindu mengulur sore bersama walau hanya bertukar tanya nanti sore mau buka puasa dimana. rindu dengan hati yang bertaut walau dalam keheningan, hening yang rasanya nyaman sekali. rindu kerutan di pinggir matanya ketika ia tertawa.


rindu betapa bersemangatnya ketika dia bercerita tentang ide idenya yang terkadang sulit saya ikuti. rindu tepukan lembut di punggung yang rasanya seperti dorongan penyemangat. rindu caranya menularkan kedewasaan padaku yang kadang saya benci, karena memang beberapa orang (seperti saya) terlalu keras hatinya untuk berubah dan bisa, salah satunya cara adalah dengan teguran keras. rindu betapa tetap setianya walaupun pertanyaan khawatirnya sering kubalas dengan diam. rindu bagaimana ia mengajarkan saya bahwa Tuhan yang akan mencukupkan segalanya, jadi tak perlu cemas dalam hidup karena semua sudah diaturNya. dia mengajarkanku cara berserah. rindu akan kalimat sesimpel "ma'an najah firda".


aaah..jadi rindu sekali rasanya.
muluk muluk yah..klise dan gombal sekali rasanya.













"aku rindu pada hari yang melelahkan, dimana sang waktu menyeret ragaku, memaksaku melupakan banyak pertanyaan. misalnya mengapa aku disini, dan sampai kapan."






Sabtu, 09 Agustus 2014

nyaris mustahil





setiap kali aku sedang merindukanmu
aku pergi ke tempat itu
dan harapanku cuma satu:
tidak sengaja bertemu denganmu.


tapi itu konyol sekali..




penantian





mari kita duduk dan bicara sebentar.
bagimu, al, apakah arti sebuah penantian?
apakah penantian sebuah kesetiaan?
ataukah berarti sikap yang menunjukkan kebodohan?
bagiku, mungkin keduanya.


al, aku menulis catatan ini sebagai bagian dari penantianku.
apa yang kunanti, sebenarnya?
tidak lain adalah kesempatan untuk bertemu lagi denganmu.
aku tahu mungkin yang aku harapkan adalah nyaris kemustahilan.
atau barangkali keajaiban.
dan seperti banyak keajaiban, ia tak terjadi manakala kita sangat mengharapkannya.


jadi, apa arti sebuah penantian bagimu, al?
apa kamu melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan?
apa kamu juga menunggu kesempatan itu?
apa kamu juga menanti untuk bertemu denganku lagi?


malam itu di solo langit begitu cerah.
tampak jelas bintang-bintang dan bulan sedang purnama.
tahukah kamu, al, cahaya yang dipancarkan bintang-bintang
adalah cahaya yang berasal dari masa lalu.
artinya, pada saat aku dan kamu melihatnya,
bintang-bintang itu sudah lama tidak ada di sana.
mereka sudah mati. mereka adalah masa lalu.


seperti kamu dan aku.


rasa sayang





pada satu titik, cinta akan habis tergerus. dan yang tersisa adalah sayang.
itu konsep yang aku reka-reka sendiri.


cinta, menurutku, adalah hasrat untuk memiliki.
sementara sayang, adalah keinginan untuk menjaga.
pada kondisi yang tidak bisa kujelaskan,
sayang berada pada pengertian yang lebih serius daripada cinta.
cinta sesaat, sayang selamanya.
cinta liar berapi-api, sayang tenang bagai air.
cinta menggebu-gebu, sayang cenderung meredam.


pada usiaku yang ke 20,
entah mengapa aku mengira mama dan papa tidak lagi saling cinta.
aku sering melihat mereka bertengkar.
mereka berselisih untuk hal-hal kecil,
sesuat yang sebelumnya tidak pernah ku lihat.
namun hingga kini, hingga aku menuliskan ini,
mama dan papa masih bersama,
masih lebih banyak akurnya daripada berselisihnya.
mengapa? karena kupikir mereka masih saling sayang.


cinta akan tergerus waktu, sementara rasa sayang tidak.
masih tersisa rasa sayang di dada mama dan papa.
karena itu mereka masih bersama.




Rabu, 06 Agustus 2014

setiap orang itu pada dasarnya baik









tidak perlu menyalahkan orang lain hanya karena merasa yang paling benar.
bahwa sebenarnya kebenaran itu sendiri bisa berwujud banyak hal, kitanya saja yang mungkin belum mengenal semua wujudnya.