Jumat, 27 Maret 2015
untuk kamu.
...
kamu yang tak pernah aku harap ada namun selalu ada.
kamu yang memaksaku menyapamu saat aku terluka untuk kemudian kamu ganti dengan tawa.
kamu yang tak kemanamana meski kamu tahu aku bertahan pada cinta yang mana.
kamu yang bersusah payah memaki keadaan lalu bersyukur setelahnya karena kita telah berjumpa..
terima kasih dan maafkan aku.
datang.
kalau kamu datang,
aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
kalau kamu datang,
aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri di depan pintu terlalu lama.
kalau kamu datang,
aku berjanji tidak akan bertanya, hati mana saja yang sudah kau lewati untuk sampai di sini.
karena dengan langkahmu, aku terbangun, dari mati suri yang kuninabobokan sendiri.
kalau kamu datang,
tolong jangan pergi.
1 hari ku.
aku perlu 1 hari..
1 hari dimana kamu tak memenuhi pikiran ini
1 hari dimana aku bisa bermain hujan seorang diri
1 hari dimana senyumku tak bergantung pada bayangmu lagi
1 hari untuk kunikmati seperti sebelum aku bertemu kamu pertama kali
dan 1 hari saat dalam mimpi pun kamu tak menghampiri.
kamu tahu?
aku ingin memiliki 1 hari itu
bukan aku lelah memperjuangkanmu
mungkin karena aku mencintaimu dengan terlalu
sedang kamu seolah tak mau tahu.
seandainya.
seandainya mencintaimu tidak serumit ini.
mungkin akan dengan mudah aku genggam kedua tanganmu,
meletakkan telapaknya di pipiku.
lalu aku akan menatap dalam matamu,
melihat jutaan binar cinta yang hanya milikku.
juga garis senyummu,
dapatkah kamu dengar seribu kepak sayap kupukupu menari di tubuhku?
iya, seandainya saja mencintaimu tidak serumit ini.
seharusnya tidak serumit ini..
Senin, 23 Maret 2015
pada akhirnya kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa. kita hanya berpikir dengan sebuah tanya pada diri sendiri. entah apa, namun yang jelas selalu diawali dengan kata: kenapa.
keburu pergi.
aku pernah membiarkan seseorang masuk.
aku kira ia hendak menetap, namun ternyata ia hanya beristirahat.
dari banyaknya orang yang ingin duduk, ia yang aku persilahkan masuk.
dari banyaknya orang yang ingin menetap, ia yang dengan mudahnya berdiri lalu melangkah pergi.
iya, aku pernah.
mungkin baginya rumahku tidak nyaman.
tapi bagiku, ia yang membuatku nyaman diam di rumah.
sayang, padahal aku hendak menjadikannya rumah dari setiap pulangnya kata dan tulisan.
tapi ia keburu pergi, lalu menjadi rahim dari setiap perginya kata dan tulisan.
Langganan:
Postingan (Atom)
