Rabu, 13 Februari 2013
siapa mereka?
antara si sanguinis dan melankolis
antara si auditorik dan visual
antara si coklat dan merah, pun antara si biru dan merah
antara si peneliti dan klinis
antara si jeruk dan teh
antara si guru sejarah dan guru bahasa inggris
antara semarang dan solo..
semoga Allah selalu menjaga antara mereka.
Selasa, 12 Februari 2013
Al-Quran
aku ingin terus melafalkanmu
ayat demi ayat
halaman demi halaman
sampai seluruh bagianmu terkumpul di dalam hatiku
aku ingin menua bersamamu
menghabiskan waktuku untuk mengucap
setiap huruf, kata, dan kalimat yang ada padamu
aku ingin menghabiskan masa mudaku
untuk mengejarmu dan mengejarmu
sampai akhirnya nanti aku tua
pikun hingga tak ada satupun yang bisa
aku ingat dari dunia,
kecuali firman-firman Allah, Rabb semesta alam..
siapa dia?
yang penyuka coklat dan es krim
yang tidak suka makan daging
yang tidak suka minuman diuretik
yang meminta maaf atas keterlambatan 4 menitnya
yang di depannya kau tak pernah bisa berbohong
siapa dia?
k-a-m-a-r-k-u
Aku pulang ke rumah
Sudah banyak yang berubah
Bukan, hanya kamarku yang berubah.
Kamar itu sudah pindah kepemilikan
sekarang
ke adikku yang paling kecil
semua berubah kawan
susunannya
meja belajarnya
lemarinya
wangi khas nya
semua tempelan di dinding khas si
visual juga sudah musnah
yang ku kenali hanya cat merah
mudanya, dia tidak berubah
Buku-buku ku mana?
Baju-baju ku di singkirkan kemana?
Semua tempelan dindingku di
buangkah? Masih di simpankah?
Mama bahkan tidak memberitahuku
Adik kecilku itu pun tak meminta
ijin dariku
Daripada tak terpakai
Memang seharusnya kamar ini di
alih fungsikan
Aku setuju
Tapi, tak bisakah aku di beritahu?
Tak bisa kah aku ikut membersihkan
agar aku lah penentu nasib barang-barang lamaku?
Bagaimana ini?
Rasanya seperti
Memulai hidup yang baru
Mengumpulkan sisa-sisa barang
Menatanya kembali
Di ruangan lain
Yang asing bagiku
Aku
Rindu
Kamarku
Di sebelah ruang tengah itu.
seorang penyair dan serangkaian esai
Esai bisa
sangat cocok ditulis seorang penyair: bentuk ini umumnya hendak berbicara
tentang sesuatu yang ingin disebut “benar”, tapi pada akhirnya, seperti puisi,
bukan itu yang paling menggoda dirinya.
Esai tidak
memutuskan, dan jawaban bukanlah urusannya. Michel de Montaigne, pemikir dan
penulis Perancis di abad ke-16 yang memperkenalkan bentuk ini, memakai istilah
‘esai’ –sebuah sebutan yang berasal dari kata essaier (“mencoba”). Dengan sikap yang mengesankan pergulatan yang
tak kunjung berhenti, dengan skeptis yang tak pernah lepas, ia pun menulis
–dengan pertanyaan pada diri sendiri,”apa yang aku ketahui?”
Sebab itu,
sebuah esai –seperti sebuah puisi –tidak ditentukan ide. Memang sebuah esai
yang bagus berpusar pada satu masalah saja, tidak berbondong-bondong
mengedepankan apa yang mau dikatakan. Tapi “berpusar” juga bukanlah jalan yang
kurus. Seperti ditunjukkan puisi, bahasa bukanlah bahan-bahan mati yang tinggal
dipungut dari kotak. Bahasa punya kekuatan sendiri, dinamikanya sendiri, dan
godaan-godaannya sendiri.
Ruangan yang ada dalam sepatah kata, ternyata mirip rumah kita: ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana.
Tuhan mencipta lautan, aku membuat
kolam.
Tuhan mencipta hutan, aku menyusun
taman.
Tuhan mencipta kali, aku membangun
irigasi.
kisah sebuah pensil
Seorang bocah
menyaksikan neneknya sedang menulis sepucuk surat. Seketika si bocah bertanya,”nenek
menulis tentang apa? Apakah itu cerita tentang aku?”
Sang nenek
berhenti menulis dan berkata kepada cucunya: “nenek memang menulis tentang
kamu, tapi yang lebih penting daripada cerita ini adalah pensil yang nenek
gunakan. Nenek harap, ketika dewasa nanti, kamu akan seperti pensil ini.”
Si bocah
memandangi pensil itu. Tak ada yang istimewa. “Tapi nek, ini tak beda dengan
pensil-pensil lain yang pernah ku lihat.”
“itu tergantung
bagaimana kamu memandang sesuatu,” sahut sang nenek. Pensil ini, lanjutnya,
punya lima keistimewaan yang, jika kamu kelola secara baik, akan menjadikanmu
seseorang yang senantiasa berdamai dengan dunia.
Pertama, kamu
berbakat menghasilkan sesuatu yang hebat, tapi jangan pernah lupa bahwa ada
tangan yang membimbing langkahmu. Kita sebut tangan itu adalah Tuhan. Tanpa
Tuhan, kita tidak bisa apa-apa.
Kedua, sekarang
dan nanti, nenek harus berhenti menulis dan menggunakan sebuah rautan. Itu akan
membuat pensil ini sedikit menderita, tapi setelah itu ia akan lebih tajam.
Kamu juga begitu, harus belajar menahan sakit dan derita, sebab semua itu akan
membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.
Ketiga, pensil
ini selalu mengingatkan kita agar menggunakan penyetip untuk menghapus
kesalahan. Artinya, mengoreksi segala yang telah kita lakukan bukanlah hal
buruk, dan akan membantu menjaga kita tetap pada jalan kebenaran.
Keempat, apa
yang sesungguhnya berarti dari sebatang pensil bukanlah kayu bagian luarnya,
melainkan granit yang berada di bagian dalam. Maka selalu perhatikan apa yang
terjadi di dalam dirimu. Jagalah hatimu agar senantiasa baik.
Terakhir, yang
kelima, pensil selalu meninggalkan jejak. Dengan cara yang sama, kamu mesti
tahu bahwa apapun yang kamu lakukan dalam hidup akan meninggalkan jejak, maka
sadarilah setiap tindakanmu. Tinggalkan kesan yang baik pada orang-orang yang
kamu tinggalkan.
“nah, apa
sekarang kamu mengerti apa keistimewaan dari pensil ini?” tanya sang nenek
kepada cucunya...
Langganan:
Postingan (Atom)