Senin, 23 Maret 2015
pada akhirnya kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa. kita hanya berpikir dengan sebuah tanya pada diri sendiri. entah apa, namun yang jelas selalu diawali dengan kata: kenapa.
keburu pergi.
aku pernah membiarkan seseorang masuk.
aku kira ia hendak menetap, namun ternyata ia hanya beristirahat.
dari banyaknya orang yang ingin duduk, ia yang aku persilahkan masuk.
dari banyaknya orang yang ingin menetap, ia yang dengan mudahnya berdiri lalu melangkah pergi.
iya, aku pernah.
mungkin baginya rumahku tidak nyaman.
tapi bagiku, ia yang membuatku nyaman diam di rumah.
sayang, padahal aku hendak menjadikannya rumah dari setiap pulangnya kata dan tulisan.
tapi ia keburu pergi, lalu menjadi rahim dari setiap perginya kata dan tulisan.
Rabu, 18 Maret 2015
buku petualangan ulysses moore.
melihat buku yang dari dulu ingin aku koleksi dan sekarang sudah terkumpul lengkap semua serinya saja, sudah membuatku teramat bahagia.
lalu bahagia yang bagaimana lagi bila nanti aku bertemu denganmu yang sudah sejak lama aku rindu?
lalu bahagia yang bagaimana lagi bila nanti aku bertemu denganmu yang sudah sejak lama aku rindu?
rindu.
rindu itu memang bermacam macam bentuknya.
ada yang rindu oleh sekedar cubitan disertai senyum simpul..
ada yang rindu oleh sekedar perasaan membuncah saat melihat lesung pipimu..
ada yang rindu oleh sekedar caramu mengacak rambut saat kamu kebingungan..
ada yang rindu oleh sekedar suara serakmu menahan tangis saat begitu mengkhawatirkan sakitku..
ada yang rindu oleh sekedar suara serakmu menahan tangis saat begitu mengkhawatirkan sakitku..
ada yg rindu duduk bersama di satu meja makan dengan obrolan khas kita berdua..
ada yg rindu melihatmu tertidur pulas di sampingku karena kelelahan..
ada yg rindu duduk melepas penat di taman kota denganmu nikmati senja..
dan rindu serindu-rindunya adalah rindu ketika kamu menengok ke belakang memastikanku sebelum kamu mengucap takbir memimpin sholat 1 shaf di depanku..
belajar.
paling tidak kita sama sama belajar
bahwa berjuang tanpa memperjuangkan bukanlah perjuangan
- sebagaimana memperjuangkan tanpa berjuang bukanlah perjuangan.
seperti katamu bahwa berjuang tidak boleh bercanda,
memperjuangkan juga harus sungguh-sungguh.
perjuangan harus utuh.
kamu tidak lebih baik daripada diriku sendiri.
seperti apa rupa perjuanganku untukmu
semoga kamu tidak menyia-nyiakannya.
kalau memang ini tidak bisa menjadi bagian dari perjalanan,
paling tidak ini bisa menjadi bagian dari pelajaran.
paling tidak kita sama sama belajar.
Senin, 16 Maret 2015
simposium sumpah dokter 189: epidermic.
![]() |
| Alhamdulillah simposium epidermic yang udah disiapin dari berbulan-bulan yang lalu bisa selesai dengan lancar, bisa happy ending. |
| ini panggungnya. simpel ya, tapi manis. suka sama desain panggungnya. |
![]() |
| ini sebagian panitia di simposium hari pertama: sabtu, 14 maret 2015. sebagian yang lain masih koas. karena ada beberapa bagian yg enggak ngijinin koasnya buat bolos, hihi, termasuk saya. |
![]() |
| ini panitia di hari yang kedua. lebih rame kan ya. |
![]() |
| ini pas evaluasi panitia selesai acara. capek, tapi seneng, Alhamdulillah. yang tadinya cuma nargetin dapet peserta 600 orang, akhirnya pembeli total di akhir mencapai 755 orang. |
| ini ada dhida, ada mbak icha, ada nimas, ada nurul juga. makasih dhida nurul yg udah sabar ikut acaranya selesai ampe maghrib bangeet. hehe, makasih yaa. |
sekiaan, sampai jumpa di cerita selanjutnyaa :D
Langganan:
Postingan (Atom)





