Pages

Jumat, 26 Juni 2015

kita




perihal pertemuan yang tak ingin terpisah.
perihal hati yang tak pernah jemu berbunga.
perihal rindu yang menjejaki hari-hari.
perihal nestapa yang menjadi gula-gula.
perihal kisah yang terus bermantra asa.
perihal rasa yang tak pernah kenal sesal.














ada sesuatu di matanya yang entah apa.
sesuatu yang belum aku tahu bentuknya.
mata cokelat bening itu,
menghanyutkan.



















apabila karenamu
aku jatuh cinta pada cinta yang baik,
izinkan aku jatuh selamanya.



















dua kota adalah aku dan engkau.
lalu tibalah kita di perbatasan.
menancapkan palang sendiri-sendiri.
menjadi asing.
















Dear asti,
suatu hari, kamu mungkin akan perlu memalsukan senyuman. tapi jangan pernah memalsukan tangisan!


salam sayang, 
dirimu yang lain.






Sepasang langkah kaki





ku mohon Tuhan,
beri aku sepasang langkah kaki
yang walaupun mesti berjalan tanpa alas kaki,
akan tetap ingin berjalan bersamaku saja.
biar aku bertemu yang sederhana,
tapi mampu bertahan selamanya
dalam ketidaksempurnaanku sebagai manusia.


setia mencintaiku, karena ia sepenuhnya mencintai-Mu.





Kamis, 25 Juni 2015

Lila, si tukang peluk





awalnya, Lila benci pelukan. bagaimana tidak, setiap orang yang memeluk Lila, selalu menghilang keesokan harinya.


waktu Lila masih kecil, saat ia belum tahu umurnya berapa, seorang laki-laki baik hati memeluknya sambil menangis. ia tidak tahu siapa laki-laki itu. itu juga pertama kalinya Lila bertemu dengan laki-laki itu. tapi laki-laki itu baik. Lila tahu dari pelukannya. saat itu Lila juga menangis. tapi ia tidak tahu kenapa. ibu Lila ada di sana juga. ibunya juga menangis.


esoknya, Lila tidak bertemu lagi dengan laki-laki itu. sampai sekarang.
















semua ada penjelasannya.
jika kita tidak mengerti penjelasannya,
bukan berarti hal itu menjadi tidak nyata.