Pages

Selasa, 29 Januari 2013

riwayat



Seperti tanah lempung pinggir kampung
Masa laluku ku aduk-aduk
Kubikin bentuk-bentuk
Patung peringatan

Berkali-kali
Kuhancurkan
Ku bentuk lagi
Patungku tak jadi-jadi

Aku ingin sempurna
Patungku tak jadi-jadi

Lihat!
Diriku makin belepotan
Dalam penciptaan

Senin, 28 Januari 2013

sahabat baruku


Tahun 2012
dan tahun-tahun sebelumnya
aku belum mengenal dia
bahkan tahu dia ada saja tidak.

tapi ternyata, Allah menghendaki ku tuk tahu bahwa dia ada..

1 Januari 2013
itu hari ketika aku pertama kali mendengar namanya
dari mulut orang lain, dari temanku.

tapi ternyata, Allah menghendaki ku tuk mengenalnya..

11 Januari 2013
kami akhirnya saling kenal,
walau tanpa tatap muka, hanya menerka-nerka.

tapi ternyata, Allah menghendaki ku tuk bertemu dengannya..

21 Januari 2013
Allah mempertemukan kami
dalam ketidaksengajaan
dalam cara yg sederhana sekali

tapi ternyata, Allah menghendaki aku menjadi sahabatnya..

dan mulai saat ini,
semoga kami tetap bisa menjadi sahabat.
tanpa tedeng aling-aling,
tetap menjadi sahabat.

puisi dua matahari


Suatu hari aku bertamu ke rumah paman matahari
Tidak disuguhi apa-apa malah dia bercerita:
Banyak orang telah menjadi manusia karena pernah
Kubakar budinya dan kugosok-gosok hatinya dengan hikmahku

“aku juga ingin paman”
Paman matahari senyum-senyum dan lantas meninggalkanku
Dengan cemas aku memburunya:
“pergi ke mana paman?”
“katanya ingin jadi manusia..”
Lenyaplah kemudian paman matahari.

Sejak itu aku belajar sendiri dan hampir putus asa
Tapi tidak.

Lalu suatu fajar pagi paman matahari muncul kembali
“paman aku menemukan lagi satu matahari!”
“benar nak. Itu adalah dirimu sendiri”

Sejak saat itu aku hidup dengan dua matahari:
Matahari yang muncul di setiap pagi
Dan matahari yang ada di dalam diriku sendiri.

di tingkat empat


Di tingkat empat
Kotaku di bawah itu
Kelap kelip beribu lampu

Di tingkat empat
Kulihat diriku melayang
Di bawah orang-orang ribut
Kalau aku melompat
Diriku rata oleh aspal dan lalu lintas
Tapi akankah bertemu
Atau tetap gelisah mencari

Di tingkat empat
Kuseret diriku kuajak pergi
Sebelum lampu-lampu di bawah
Merayuku lebih jauh.

mengintip katak mandi


Sebelum datang,
Di ladang jagung, di ladang airnya
Katak-katak masih serempak
Telanjang bulat buat mandi.
Lalu,
Katak-katak berhenti sama sekali

Aku mengganggu sunyi?
Aku merindukan sunyi.

kucing, ikan asin, dan aku


Seekor kucing kurus
Menggondol ikan asin
Laukku untuk siang ini

Aku meloncat
Kuraih
Pisau
Biar
Kubacok ia
Biar
Mampus

Ia tak lari
Tapi mendongak
Menatapku
Tajam

Mendadak
Lunglai
Tanganku
-aku melihat diriku sendiri

Lalu kami berbagi
Kuberi ia kepalanya
batal nyawa melayang
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

Minggu, 27 Januari 2013

waktu selalu menjadi obat paling mujarab


Kau tahu?
Waktu selalu menjadi obat paling mujarab.
Dialah yang mengalahkan raja-raja hebat dunia.
Menggerus gunung menjadi rata.
Juga membuat daratan jadi lautan.

Dialah sang waktu.

Tidak peduli seberapa berkuasa seorang raja,
seberapa luas kerajaannya,
waktu tetap akan membunuhnya.
Tentu saja tidak dalam arti harfiah langsung.
Lihatlah, Majapahit, Sriwijaya, Samudera Pasai
kau pasti pernah belajar soal kerajaan itu di sekolah, bukan?

Jutaan tahun umur dunia berlalu
banyak gunung-gunung tinggi yang berubah jadi rata.
Jutaan tahun terlewati,
juga banyak daratan yang perlahan berubah jadi lautan,
dan sebaliknya lautan berubah kembali menjadi daratan.

Sang waktulah yang menjadi saksi semua proses itu.
Sang waktu yang tidak pernah tua,
berhenti atau berubah.

Nooit verloren..
tidak pernah kalah dari apapun..

#burlian

rajin-rajinlah sekolah





















Sekolah itu,
seperti menanam pohon, anakku.
Kau menanam sekarang,
tapi belum bisa langsung kau lihat hasilnya.

Tapi hanya kau tanam dan berdiam diri menunggu
juga bukan cara yg bijaksana.
Pohon itu harus kau rawat,
harus kau siram,
juga harus kau pupuk
agar kelak dia bisa tumbuh besar dan kokoh.
kau sendiri yg akan rasakan manfaatnya, nak.

Tapi jika nanti pohon itu sudah besar,
janganlah kau larang orang lain yg hanya ingin berteduh di bawah pohonmu.
Tetaplah berbagi.
Karena pohon besar ini tidak akan rubuh jika hanya menjadi sandaran.