Pages

Minggu, 02 Maret 2014

selepas perjamuan




semua telah pergi.
di piring tinggal duri-duri yang menganga.
jejak kaki di lantai dingin.
tumpahan saus dan tulang-tulang ayam berserakan di paru-paruku.
dari jendela kulihat engkau di restoran lain
bersendawa tak habis-habisnya.

di sebuah pinggan,
kulihat sepotong ikan bagai diriku
terendam di kuah yang salah
hingga rasanya kikuk dan masam di lidah.
maka diam-diam kukemasi sisa bumbu,
kulit bawang dan pecahan telur
yang berserak dalam batinku.

aku pun belajar memasak bagi diriku sendiri.
sekali saja kau sebut kata perjamuan
piring-piring di nadiku segera berderak pecah
membikin hatiku luka parah.



dalam perjamuan



engkau sudah kekenyangan
dengan makanan lain, menu lain, perjamuan lain
kala kau datang ke mejaku.
hingga antara sungkan dan tak mengerti,
kau pandangi saja segala masakan
yang terhidang di meja makan.
sambil tak putus-putus bersendawa
kau sentuh juga dengan enggan
satu dua makanan dan kau muntahkan
lalu kau tertidur sambil mendengkur
tinggal aku termangu
sendiri bagai orang dungu.
waktu makan sudah lewat.
senja beringsut berangkat
ke jantung malam.

nasi dingin, masakan dingin
bersiul juga suara angin.
sayur basi, teh pun basi
apalagi yang mesti ditangisi.

kala matahari bersinar di cakrawala
kau terbangun tiba-tiba
memanggil segala orang
mencicipi ini dan mencoba itu
mencemooh ini dan memprotes itu.
lalu sebuah ceramah panjang
tentang bagaimana mestinya masakan dihidangkan,
juga cara indah menyusun menu.
dan para penjamu mengangguk setuju.
tinggal aku termangu
sendiri bagai orang dungu.



sebelum perjamuan



dan kumulai semuanya dengan hatiku.
kupetik bulir padi dan sayuran terbaik
dari kebun jiwaku.
kumasak sepenuh rindu
sepenuh mesra hingga mengepul segala salam,
dalam darah batinku.
maka aku pun datang padamu.
menyeduh teh dengan darahku,
menyiapkan meja dan perjamuan.
sudah kubayangkan perjumpaan kita
dua langit pengalaman, dua dunia berlainan
membangun cakrawala di meja makan.
tempat bermacam dunia
bertautan menjelma bunga.
tak kau lihat kesibukanku
tak kau tahu letihlelahku
sendiri menyiapkan masakan di dapur.
namun sungguh benar tak mampukah
engkau dengar desirnya yang berdebur?



Kamis, 27 Februari 2014

doaku malam ini





ya Allah, terangilah penglihatanku dengan kitab-Mu.
Lapangkanlah dadaku dengannya.
Bugarkanlah badanku dengan membacanya.
Permudahkanlah urusanku karenanya.
Lancarkanlah lisanku untuk membacanya.
Percepatlah pemahamanku tentangnya.
Hilangkanlah kesedihanku dengan bacaannya.
Berilah aku kemampuan membaca & menghafal Al-quran,
serta menguasai berbagai ilmu yang terkandung di dalamnya.
Tetapkanlah semua itu dalam hatiku, ya Allah.
dan muliakanlah aku dengan berbagai kebaikan.
Sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan
pertolongan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.


amiiin..


Rabu, 26 Februari 2014

kata perpisahan yang tak sempat diucap






suratnya masih tertahan
dalam genggaman tinta yang belum kering
oleh air mata.








di kamar



cinta itu masih ada
tersimpan rapi, bahkan.
di dalam kotak lima kali lima
di amplop coklat yang kau rekatkan
di kertas bergaris yang kau kirimkan.

tapi sayang mereka tertinggal di kamar.








ada pepatah yang bilang,
mensana in corpore sano
di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

tapi menurutku itu terbalik.
justru di dalam jiwa yang kuatlah terdapat tubuh yang sehat. 








lima kuntum bunga matahari



aku punya lima kuntum bunga matahari
kupetik dari dataran tinggi
susah payah butuh berhari-hari
dan hanya ku dapat lima bunga.
tapi tidak mengapa, ini cukup sudah.

satu kuntum akan kuberikan kepada mama
terima kasih sudah merawatku sejak kecil.

satu kuntum akan kuserahkan kepada papa
terimakasih sudah memberiku teladan dan pengertian.

satu kuntum akan kusampaikan kepada kakak-adikku
terima kasih sudah menjaga dan mendukungku.

satu kuntum akan kuberikan kepada guru-guruku
teima kasih sudah mengajariku agar berbudi.

satu kuntum terakhir untuk teman-temanku
terima kasih sudah menemaniku dalam suka maupun duka.

sungguh terima kasih.